Sampah Plastik

Saya sangat mencintai hutan, sungai dan laut. Saya juga sangat suka makan ikan dari sungai dan laut. Saya tidak ingin hutan, sungai dan laut menjadi kotor karena sampah, terutama sampah plastik.

Satu hal kecil yang bisa saya dan keluarga saya lakukan adalah :

1. Mengumpulkan sampah plastik dan kertas ke dalam tas plastik, kemudian membakarnya kalau tas plastik sudah penuh. Satu tas plastik besar, biasanya cukup untuk menampung sampah plastik keluarga kami selama satu sampai dua minggu.

2. Sampah daun dan sayuran kami kumpulkan dan cincang kecil-kecil, kemudian ditaruh di bawah pohon mangga, pisang dan lainnya agar bisa menjadi penyubur tanah.

3. Sisa-sisa nasi, ikan, roti, dan makanan basah lainnya, kami sebarkan di kebun, agar bisa dimakan oleh ayam, kucing, kadal, semut merah, dan mahluk kecil lainnya.

4. Botol-botol minuman yang agak besar, can, gelas, kotak makanan, dan sejenisnya, kami kumpulkan untuk diberikan kepada pemulung yang sering lewat depan rumah kami.

Kami sudah melakukan hal kecil ini sejak 2 tahun lalu. Awalnya memang terasa berat, terutama untuk menyadarkan istri dan anak-anak saya. Tapi setelah agak lama mencoba, termasuk dengan marah-marah hampir setiap hari, mereka akhirnya mau mengikutinya.

Semoga dengan langkah kecil ini, kami bisa membantu menciptakan hutan, sungai dan laut yang bersih tanpa sampah, terutama sampah plastik ……

Disiplin, Kunci Belajar Bahasa Inggris

Seorang murid dewasa datang menemui saya sore itu. Namanya Duraprana, 26 tahun belum menikah. Saya biasa memanggilnya Mas Dura. Ia menyatakan keinginannya untuk bekerja di Australia setelah siang harinya sempat mengunjungi sebuah kantor agen tenaga kerja yang katanya sering mengirim tenaga kerja ke luar negeri. Saya menanyakan bagaimana perkembangan Bahasa Inggrisnya saat ini, karena untuk bisa bekerja di Australia tentu diperlukan kelancaran berbahasa Inggris.

“Nah itulah masalahya, Pak, ”katanya. “Saat ini Bahasa Inggris saya boleh dibilang masih jauh dari lancar.”

“Kenapa begitu? Kan ikut lesnya sudah lumayan lama?”

“Ya, Pak, saya sangat jarang bisa datang untuk belajar di EC. Teman-teman seangkatan saya rata-rata sudah lancar dan bahkan banyak yang sudah berhenti les dan mendapat pekerjaan yang bagus.”

“Kenapa Mas Dura tidak bisa datang les?”

“Sepulang kerja, saya seringan merasa lelah. Kadang ada teman yang mengajak saya jalan-jalan, makan bersama, atau main bulu tangkis.”

“Kan jadwalnya bisa disesuaikan. Atur saja dengan CS kita.”

“Sudah sering Pak saya tukar-tukar jadwal, tapi tetap tidak bisa datang juga; sampai malu saya sama Miss-nya..” katanya sambil menoleh ke meja CS.

Saya menarik nafas sebentar, lalu menutup pintu kantor saya, menurunkan temperatur AC dan menyalakan lampu ruangan.

“Begini Dura, “saya mulai menguliahinya, “program kursus di EC itu disusun untuk bisa dikuasai selama dua bulan. Jika mengikuti dengan baik, banyak peserta yang sudah bisa menguasainya bahkan dalam empat atau lima pertemuan saja. Metode EC sudah diujikan bertahun-tahun dalam program kursus online carakita.com dan mendapat apresiasi yang begitu besar dari para peserta dari seluruh Indonesia.”

“Ya, saya tahu Pak. Teman-teman seangkatan saya buktinya. Mereka bisa menguasai Bahasa Inggris dengan sangat cepat.”

“Kenapa Mas Dura tidak bisa seperti teman-teman itu?”

“Untuk itulah saya datang menemui Bapak. Saya ingin minta nasehat Bapak, bagaimana agar saya juga bisa seperti teman-teman saya itu.”

“Ada tiga syarat utama agar bisa menguasai Bahasa Inggris dengan cepat di EC-english is easy, yaitu target yang jelas, keteraturan berlatih, dan kesinambungan.”

“Target yang jelas, artinya peserta telah menentukan kapan ia bisa menguasai Bahasa Inggris, dan bagaimana Bahasa Inggrisnya pada saat yang ditentukan itu.”

“Apakah Mas Dura sudah menentukan kapan harus bisa berbahasa Inggris?”

“Saya ingin bisa secepatnya Pak.”

“Nah, ini target yang belum jelas namanya. Mas Dura harus menentukan waktu yang spesifik, misalnya 1 bulan, 2 bulan, 3 bulan, 6 bulan, 1 tahun atau 2 tahun dari saat ini. Setelah itu, bayangkan apa yang akan Mas Dura lakukan setelah menguasai Bahasa Inggris pada saat yang ditentukan itu, kebahagiannya,  kebanggaannya, atau hal-hal indah lainnya. Misalnya Mas Dura akan menonton film berbahasa Inggris setiap hari, jalan-jalan ke pantai Kuta dan berbicara dengan para tamu bule dengan lancar, atau bekerja di Australia seperti yang Mas katakan tadi. Bayangkan hal-hal indah itu sejelas-jelasnya sehingga tampak sebagai sesuatu yang nyata.”

“Bisa Pak. Saya sekarang targetkan saya harus sudah lancar berbahasa Inggris 2 bulan dari sekarang.”

“Baiklah, tapi Mas harus membuat target itu menjadi lebih nyata dengan menuliskannya besar-besar lalu memasangnya di dinding kamar, di kantor atau di tempat yang paling sering Mas lihat. Sementara Mas bisa gunakan kertas ini. Tulis misalnya seperti ini: “Saya Dura, lancar berbahasa Inggris tanggal 10 Januari 2017.”

“Tidak ada kata “akan”nya Pak?”

“Tidak, karena kalau diisi kata “akan” maka tetap akan menjadi akan – akan saja, tidak pernah menjadi kenyataan.”

“Bagaimana kalau dilihat oleh teman saya, apa nggak malu Pak?”

“Tidak usah malu. Anggap saja ini sebagai komitment atau janji yang sungguh-sungguh. Teman-teman Mas akan menjadi orang-orang yang selalu mengingatkan Mas untuk tetap datang ke tempat kursus, walaupun saat lelah sepulang kerja.”

“Ya benar juga Pak…. hehe, ”kataya sambil nyengir.

“Nah, setelah target menjadi sangat jelas, lanjutkan yang kedua: keteraturan berlatih. Pastikan bahwa Mas datang ke EC untuk bisa berlatih secara teratur 2 kali seminggu, sekaligus juga untuk mengecek perkembangan penguasaan Bahasa Inggrisnya. Selain itu, Mas juga harus rajin berlatih di rumah setiap pagi dan sore. Saya anjurkan Mas membuat semacam buku harian; tulis satu paragraf di pagi hari dan satu paragraf di malam hari. Semuanya menggunakan Bahasa Inggris yang sudah Mas pelajari selama ini.”

“Oh gitu ya Pak?”

“Ya, saya dulu juga melakukannya seperti itu. Saya selalu menulis di pagi hari dan di malam hari, setiap hari. Dan ulisan-tulisan itu masih saya simpan sampai sekarang.”

“Ya Pak, saya pasti melakukannya.”

“Terakhir yang ketiga, pastikan bahwa Mas melakukan itu secara kontinyu selama 2 bulan dulu. Jangan sampai lupa atau sengaja tidak melakukannya dengan berbagai alasan.”

“OK Pak, saya akan belajar dengan sungguh-sungguh mulai hari ini.”

Apakah Agama Penting?

Karena merasa sudah sedikit akrab, beberapa waktu lalu saya bertanya kepada seorang tamu bule saya, yang kebetulan tinggal di Bali agak lama.

“Apa agama Anda, Mister?” tanya saya.

“Inovasi.”

“Agama inovasi?”

“Bukan. Inovasi kira-kira berarti  pengembangan pengetahuan dan kreativitas yang bisa membuat hidup dan kehidupan kita menjadi lebih baik daripada sebelumnya.” katanya.

“Oh, jadi kamu tidak mengikuti salah satu agama yang sudah ada seperti Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, atau yang lainnya?”

“Tidak.”

“Kenapa begitu?”

“Karena menurut saya, semua agama yang kamu sebutkan itu hanya berkutat pada dogma-dogma yang disampaikan secara turun temurun. Dogma yang menciptakan ketakutan dan kepatuhan absolut tanpa memberikan kebebasan berfikir kepada pemeluknya.”

“Agama hanya membuat kita merasa benar sendiri dan yang lain dianggap pasti salah; atau membuat kita selalu merasa lebih baik daripada pemeluk agama yang lain.”

“Agama hanya membuat kita semakin bodoh dan tidak mampu berinovasi, karena kita selalu terpaku dengan dalil-dalil atau aturan-aturan yang tertulis di kitab-kitab, atau terkadang didalilkan oleh orang-orang yang kita anggap sebagai para pemuka agama.”

“Semakin tinggi kepatuhan kita terhadap agama atau kepercayaan yang kita anut, maka semakin terpasunglah kebebasan berfikir kita, semakin sedikit pula peluang menumbuhkan inovasi-inovasi baru. Karena kebebasan berfikir kita terpasung, akan membuat kita semakin bodoh dan pada gilirannya akan membuat kita hidup dalam kemiskinan. Bagaimanapun cepat atau lambat, kebodohan akan menciptakan kemiskinan.”

“Kamu bisa perhatikan di mana saja, baik di Indonesia sendiri atau di negara lain, apabila agama dipraktekkan dengan absolut oleh para pemeluknya, maka mereka akan terjerat oleh kebodohan dan kemiskinan. Bahkan tidak jarang mereka berperang satu sama lain, karena sama-sama ngotot merasa paling benar sendiri.”

“Jadi dengan kata lain, agama tidak penting kan menurut kamu?” tanya saya.

“Bukan hanya tidak penting. Terkadang agama menjadi sumber petaka bagi manusia. Jadi kalau kita tidak mau bodoh dan miskin, atau bahkan berperang satu sama lain, menurut saya tidak usah beragama. Atau kalaupun beragama, tetaplah beragama secara kritis. Berikanlah ruang untuk kebebasan berfikir dan berinovasi. Selalu telaah dalam-dalam apa yang tertulis di kitab-kitab dan yang didalilkan oleh para pemuka agama, apakah sesuai dengan kata hati kita dan akan bisa membuat hidup dan kehidupan kita menjadi lebih baik daripada sebelumnya.”

Tanpa terasa, sore menjelang. Sang Mentari sudah hampir masuk ke peraduannya. Saya berkemas meninggalkan kursi pantai yang hampir dua jam saya duduki. Saya tidak mengatakan setuju atau tidak setuju dengan apa yang dikatakan oleh tamu saya. Saya biarkan pikiran saya terbang bebas bagai camar yang melayang di antara keindahan sore pantai Kuta…….

Kenapa Bapak Tidak Kaya?

Dalam perjalanan ke Batungsel, Pupuan hari Minggu malam lalu, aku berdebat dengan Yogi, anak tertuaku.

Yogi : “Kenapa Bapak tidak kaya?”

Saya : “Karena tidak pingin.”

Yogi : “Kenapa tidak pingin? Bukankah kalau kita kaya, kita bisa hidup enak? Bisa tour kemana dan kapan saja kita suka? Makan apa saja yang kita inginkan? Membeli mobil bagus? Tinggal di rumah mewah? Atau membantu orang agar mendapat banyak pahala?

Saya : “Ya, Bapak memang tidak terlalu menginginkan semua itu, dan sudah cukup nyaman dengan keadaan Bapak saat ini.”

Yogi : “Wah, Bapak memiliki mindset yang salah tentang kekayaan. Dalam buku-buku motivasi yang Yogi baca, semua mengulas tentang kesalahan pola pikir kita tentang kekayaan.”

Saya : “Bapak sudah baca hampir sebagian besar buku-buku itu.”

Yogi : ”Terus, kenapa Bapak tidak menerapkannya?”

Saya : “Bapak memiliki konsep yang berbeda tentang hidup dan kekayaan.”

Yogi : “Bedanya bagaimana?”

Saya : “Penjelasannya panjang, dan belum cocok dijelaskan untuk anak seumuran kamu.”

Yogi : “Jadi?”

Saya : “Sementara hiduplah sewajarnya seperti teman-temanmu. Belajar sebaik-baiknya dan gantungkan cita-citamu setinggi-tingginya. Jika saatnya tiba, kamu akan menemukan sendiri penjelasannya.  

Gold Quest, dan Mimpi Yang Tertunda

Awal tahun 2002, saya beralih profesi menjadi pemborong bangunan dan meninggalkan jabatan saya sebagai Front Office Manager di hotel The Chedi, Ubud (sekarang Alila Ubud). Harapan saya saat itu adalah agar bisa mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya dan secepat-cepatnya dan segera bisa bebas finansial.

Beberapa proyek rumah berhasil saya dapatkan dari memasang iklan di koran Bali Post dan Denpost. Saya mengajak beberapa saudara dari kampung untuk mengerjakan proyek-proyek itu. Beberapa rumah bisa selesai dengan cepat , namun beberapa ada yang molor sampai beberapa bulan. Saya tetap memasang iklan agar mendapatkan lebih banyak order. Pernah sekali waktu saya mengerjakan lima unit rumah sekaligus di lokasi berbeda dengan pemilik yang berbeda pula. Teman-teman hotel saya terheran-heran, karena melihat saya bisa menjalani profesi baru saya yang sebenarnya sangat jauh dari dunia perhotelan yang saya geluti sebelumnya.

Masalah mulai muncul, ketika saya mengambil beberapa proyek yang agak besar dengan harapan untung yang lebih besar. Karena kurang pengalaman, beberapa proyek molor jauh dari rencana, dan pemilik tidak mau menyelesaikan pembayaran sesuai terminnya. Saya harus menalangi pembayaran bahan dan tukang-tukang saya dengan meminjam uang di BPD Bali. Situasi semakin memburuk, karena beberapa pekerjaan tidak sesuai spesifikasi dan pemilik meminta pembongkaran dan pemasangan ulang.

Saya menambah frekuensi pemasangan iklan untuk mendapatkan proyek baru. Saya berhasil mendapatkannya, namun harganya sangat rendah. Saya menggunakan uang mukanya yang sekitar sepuluh sampai dua puluh persen dari nilai bangunan untuk menalangi sementara tagihan-tagihan di toko bangunan dan membayar tukang-tukang yang mengancam mogok. Uang muka ini jauh dari cukup, karena beberapa proyek sebelumnya akhirnya benar-benar mangkrak, dan pemiliknya mencari pemborong lain dengan tidak membayar sisa tagihan saya.

Saya benar-benar terpuruk. Utang saya di toko-toko bangunan semakin menumpuk. Setiap hari ada saja yang datang ke rumah saya untuk menanyakan pembayaran. Saya berusaha menemui mereka dan menjelaskan keadaan saya. Beberapa diantara mereka mau mengerti, namun beberapa mengancam akan membongkar rumah yang saya bangun atau melaporkan saya ke polisi. Sementara itu petugas dari Bank BPD Bali hampir setiap hari menelpon meminta saya mencicil pinjaman atau kalau bisa bunganya saja. Saya bahkan sudah diblacklist di Bank Indonesia karena tiga kali cek dan BG yang saya keluarkan tidak bisa dicairkan tepat waktu.

Di tengah keterpurukan saya, teman saya yang sudah lebih dulu berhenti dari hotel dan mulai menekuni bisnis MLM Gold Quest mengajak saya bergabung. Saya tertarik, karena kelihatannya sistemnya sangat mudah dan akan tetap bisa menghasilkan meskipun tidak dikerjakan lagi, bahkan bisa diwariskan pula. Saya mengambil dua unit menggunakan uang muka dari proyek baru saya yang lainnya..hehe, ini harapan saya agar nantinya bisa diwariskan kepada kedua anak saya. Saya sangat bersemangat mengerjakannya di sela-sela keterpurukan bisnis pemborong saya. Saya berpikir kalau utang-utang saya akan segera lunas dari aliran komisi yang dibayarkan downline saya. Bahkan saya berkhayal tidak lama lagi akan segera mencapai cita-cita saya untuk bebas finansial.

Saya berusaha mendekati beberapa teman saya dan mengajaknya bergabung. Namun dibalik dugaan saya, semua menyatakan sudah tahu bisnis ini dan ingin melihat saya sukses terlebih dahulu, baru mau bergabung. Ternyata saya yang kurang gaul. Gold Quest memang sudah hadir di Bali sekitar dua tahun sebelum saya bergabung. Beberapa orang mungkin sudah pernah menawarkannya kepada saya, tapi saya tidak menanggapinya. Setelah menjalaninya selama sekitar enam bulan, tidak satupun orang yang bisa saya buat bergabung menjadi downline saya. Saya mulai putus asa, ditambah keadaan bisnis pemborong saya yang bagai kerakap tumbuh di batu, hidup segan mati tak mau. Saya mengalami dua kegagalan bisnis sekaligus.

Satu pagi di awal Oktober 2003, teman yang dulu mengajak saya bergabung di bisnis MLM Gold Quest  menelpon. Akhir bulan ini akan diadakan “Life Changing Boot Camp” di Bedugul. Ia mengajak saya bergabung dengan membayar sebesar Rp 1,5 juta, tapi akan dipinjami dulu oleh salah seorang leader Gold Quest sebesar Rp 1 juta. Jadi saya tinggal mengusahakan Rp 500 ribu saja. Saya benar-benar tidak punya uang waktu itu, namun saya begitu ingin mengikuti boot camp ini karena sesuai namanya “Life Changing” dan hidup saya memang pantas di”change”, hehe…

Saya bicara kepada istri saya untuk kalau mungkin meminta atau meminjam uang darinya. Ia marah besar dan mengatakan saya belum kapok juga. Saya akhirnya memutuskan untuk menarik tabungan pendidikan yang kami alokasikan untuk anak kami, karena berpikir bootcamp ini sangatlah penting. Transportasi dan lainnya saya bisa nebeng dengan teman saya.

Singkat kata, bootcamp dimulai. Hal terpenting yang saya dapatkan adalah “jika kita berpikir bahwa kita bisa mendapatkan sesuatu, maka kita benar-benar akan mendapatkannya.” Waktu itu satu per satu peserta disuruh maju ke panggung, meneriakkan sekeras mungkin apa yang ingin mereka raih dalam 5 tahun dari saat itu. “Saya bebas utangngngng……..” teriak saya sekerasnya sampai berguling-guling di atas panggung. Saya mengulangi teriakan keras itu sampai lebih dari sepuluh kali. Sampai akhirnya, saya merasakan sesuatu bergerak dalam alam bawah sadar saya. Saya merasakan sinar terang mulai memancari pikiran saya. Dan saya yakinkan bahwa lima tahun setelah bootcamp itu, saya sudah terbebas dari masalah utang saya.

Setelah bootcamp selesai, saya melakukan aktivitas saya seperti biasa. Saya melanjutkan proyek renovasi sebuah villa di kawasan Legian. Meskipun utang saya masih menumpuk, saya memiliki keyakinan bahwa lima tahun lagi utang-utang itu akan lunas semuanya. Saya bisa yakin seyakin-yakinnya, karena karisma pembina bootcamp seakan menyihir diri saya menjadi pribadi baru yang penuh percaya diri, walaupun situasi sulit tampak nyata di depan mata. Bootcamp itu benar-benar sesuatu, pikir saya.

Seminggu berlalu, saya tetap menjalani hari-hari seperti biasa. Sampai pada suatu sore, seorang tukang saya memanggil saya dan menunjukkan tumpukan buku di lemari kaca di sebuah ruangan besar yang sudah ditumbuhi rumput-rumput liar dan beberapa tanaman merambat lainnya. Saya menemui pemilik villa, dan menanyakan mau diapakan buku-buku itu. “Dibuang saja”, katanya, “karena tamu yang mengontrak sudah pergi beberapa bulan dan tidak akan kembali lagi.” “Boleh saya yang ambil, Bu?” kata saya, karena saya memang pencinta buku dari sejak saya sekolah dulu. “Tentu saja, kalau Pak Wayan mau,”katanya. Wah ini rejeki nomplok, pikir saya.

Esok harinya, saya membawa karung untuk tempat buku-buku itu. Total ada tiga karung besar dan saya bawa satu per satu dengan motor saya. Saban malam, saya sortir buku-buku itu, dan menaruh yang paling menarik di kamar tidur saya. Dan akhirnya saya menemukan sebuah buku usang berbahasa Inggris, yang mana setelah saya baca, saya menemukan “Rahasia Memiliki Daya Tarik Uang”. Ini benar-benar mukjizat dari bootcamp, pikir saya.

Bersambung…

Ikatan Adat Bali, Untuk Siapa?

“Minggu depan apakah saya boleh minta ijin selama 2 hari, Pak?” kata Putu, seorang karyawan saya penuh harap. “Tetangga saya di kampung akan menyelenggarakan upacara Potong Gigi, dan puncak acaranya hari Rabu minggu depan. Saya ingin pulang kampung, karena saya terikat adat di kampung saya,” lanjutnya kemudian.

“Baiklah,” kata saya, “tapi gaji Anda harus dipotong selama 2 hari libur Anda itu.” “Ya pak, saya memilih gaji saya dipotong, daripada saya disisihkan dari komunitas adat di desa saya,” katanya dengan berat hati.

Saya sering bertanya dalam hati, untuk siapa sebenarnya ikatan banjar atau desa adat di Bali ini? Untuk siapa orang Bali harus bersusah-susah mempertahankan tradisi adatnya? Apakah untuk memuaskan para wisatawan yang berkunjung ke pulau Dewata ini? Apakah untuk kebanggaan sebagai orang Bali? Atau, apakah semata karena takut disisihkan dari komunitas banjar adat atau desa adat?

Saya melihat banyak orang Bali melakukan kegiatan adat dengan penuh keterpaksaan dan ewuh pakewuh. Terutama mereka yang menggantungkan hidup mereka dari bekerja harian, yang tidak akan dibayar jika mereka libur atau tidak bekerja. Mereka harus meninggalkan pekerjaan sekaligus penghasilan mereka, karena ada keluarga atau anggota banjar adat yang punya hajatan seperti upacara potong gigi, ngaben, menikah, dan lain sejenisnya. Seringkali mereka harus ada atau hadir di tempat upacara, walaupun tidak melakukan apa-apa di sana.

Sebagai konsekuensinya, banyak diantara mereka yang tidak bisa memenuhi kebutuhan minimal bulanan mereka. Tidak bisa membayar cicilan motor, TV, dan alat elektronik standar yang ingin mereka miliki. Tidak bisa menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah berkualitas. Tidak sempat menabung untuk masa depan, apalagi bisa berlibur ke luar negeri misalnya. Malah banyak diantara mereka yang akhirnya jatuh miskin dengan hutang yang meningkat dari waktu ke waktu, dan pada gilirannya harus merelakan tanah warisan mereka dijual untuk menutupi hutang-hutang mereka yang sudah menumpuk.

Saya pribadi sangat prihatin dengan keadaan ini. Saya sering membandingkan dengan teman-teman yang tidak kena ikatan adat (Bali) ini. Mereka seakan bebas menggunakan waktu mereka untuk berkonsentrasi dalam bekerja dan menghasilkan uang, menabung untuk masa depan, menyediakan pendidikan terbaik untuk anak-anak mereka, serta mengajak anak-anak mereka berlibur dan menambah wawasan ke luar negeri. Mereka tidak terlalu disibukkan dengan upacara-upacara yang terkadang datang beberapa kali dalam satu bulan.

Saya khawatir, jika keadaan ini berlanjut, orang Bali akan semakin tertinggal secara ekonomi dan juga pendidikan. Orang Bali akan mewariskan generasi yang tidak siap bersaing dalam kemajuan tekologi yang demikian pesat ini. Orang Bali hanya akan berkutat dengan tradisi yang mempersulit diri sendiri, memaksa teman dan saudara patuh dengan ikatan adat, dan menyisihkan mereka kalau berani melanggar.

Apa yang seharusnya dilakukan? Saya menginginkan ikatan adat yang ketat bisa dilonggarkan. Upacara-upacara keagamaan tetap dilaksanakan namun dengan penyederhanaan sampai tingkat maksimal, dan tidak mesti mewajibkan semua anggota adat untuk terlibat. Kalau mungkin upacara ngaben, potong gigi, nyambutin dilaksanakan secara massal atau kolektif dengan rentang waktu yang cukup lama, misalnya 10 tahun sekali. Ini akan memungkinkan kita sebagai orang Bali memiliki cukup waktu untuk berkonsentrasi bekerja dan meraih penghasilan yang cukup, dan pada gilirannya bisa menabung serta menyediakan pendidikan terbaik untuk anak-anak kita. Kita akan tetap bisa bersaing dengan teman-teman kita yang tidak kena ikatan adat, tanpa meninggalkan tradisi yang diwariskan oleh para Leluhur kita.

Ikatan adat Bali adalah untuk kita, bukan untuk siapa-siapa. Maka dari itu, kita harus membuatnya memudahkan hidup kita, bukan justru mempersulitnya…

Bali Tanpa Sawah

Apakah Anda pernah membayangkan Bali tanpa sawah? Saya sangat yakin tidak lama lagi, sawah-sawah akan benar-benar menghilang dari pulau Dewata ini. Apa sebabnya? Karena upaya mempertahankan keberadaannya memang nyaris tidak ada. Ini terlihat dari begitu mudahnya mendapatkan perijinan alih fungsi sawah-sawah produktif menjadi kompleks perumahan, villa dan hotel. Ini terjadi hampir merata di seluruh kabupaten di Bali.

Bagaimana jadinya jika Bali tanpa sawah? Secara umum memang tidak akan banyak pengaruhnya. Namun taksu Bali (baca : Hindu) akan segera menghilang seiring menghilangnya sawah-sawah itu. Ini karena karakter Bali tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan pertanian yang menempatkan sawah sebagai pilar utamanya. Sawah bagi orang Bali adalah Ibu yang memberi makan dan kehidupan.

Bagaimana cara mempertahankan sawah-sawah itu? Yang paling radikal adalah pemerintah membeli semua sawah yang ditawarkan untuk dijual, kemudian menjadikannya jalur hijau dengan fungsi sebagai sawah abadi. Uangnya dari mana? Bisa dari mana saja, APBD atau donatur dari orang yang peduli akan kelestarian alam Bali. Dan dengan cara ini, harga tanah sawah akan otomatis menurun drastis, karena tidak ada lagi yang berspekulasi untuk mendapatkan keuntungan jangka pendek dengan menawarkan sawah sebagai sarana investasi.

Terus, bagaimana dengan lahan perumahan, villa, dan hotel yang dibutuhkan masyarakat yang semakin bertambah populasinya? Yang paling mungkin adalah dengan mengijinkan bangunan vertikal dengan ketinggian tidak terbatas di daerah-daerah yang sudah ada bangunannya saat ini. Apakah hal ini tidak mengurangi kesucian Bali karena orang tinggal di tempat yang lebih tinggi daripada pura-pura atau sanggah-sanggah orang Bali? Menurut saya, kesucian ada di dalam hati.

Sekarang pilihannya ada 2, mengijinkan sawah-sawah itu menghilang atau menerima perkembangan jaman dengan membangun ke atas, bukan ke samping………

Bahasa Inggris Adalah Penyelamatku

Saat bulan-bulan awal di bangku SPG, aku kerap dijadikan gurauan dan bahkan ejekan oleh beberapa teman dan kakak kelasku. Menurut mereka, aku ini terlalu kecil jika akan menjadi guru nantinya, dan akan dijadikan mainan oleh murid-muridku. Memang, jika dibandingkan dengan teman-teman sebayaku, saat itu aku termasuk kecil. Berat badanku saat masuk SPG sekira 37,5 kg, sedang tinggi badanku 145 cm. Gurauan ini sering membuat aku uring-uringan dan terkadang tak bisa tidur. Aku berpikir, jangan-jangan apa yang mereka katakan benar dan aku menjadi mainan murid-muridku saat aku mengajar nantinya. Siang-malam aku memikirkan ini, sampai suatu ketika aku hampir saja benar-benar memutuskan untuk berhenti sekolah dan kembali ke kampungku.

Setelah melewati berbagai pertimbangan, Tuhan akhirnya memberikan sinar terangnya sehingga aku mengurungkan niatku untuk berhenti sekolah. Aku tidak ingin mengecewakan banyak orang, terutama orang tua dan guru-guruku di SD dulu, yang dengan semangatnya menginginkan aku agar melanjutkan sekolahku setinggi-tingginya. Sejak memasuki semester 2, aku mulai rajin bergelayut di pintu kamarkostku, agar aku bisa sedikit bertambah tinggi; serta mulai makan agak banyak agar berat badanku bertambah pula. Aku tidak peduli lagi apakah aku akan menjadi guru atau tidak nantinya. Yang terpenting bagiku saat itu adalah menamatkan dan memiliki ijasah sekolah menengah atas.

Aku mulai memfokuskan pikiran dan waktuku ke 2 mata pelajaran saja, yaitu Matematika dan Bahasa Inggris. Aku mengurangi perhatianku ke bidang-bidang yang aku anggap tidak begitu penting, seperti Pedagogik, Didaktik Metodik, Psikologi, PKK, IPA, IPS, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Bali. Setiap hari aku meluangkan waktu cukup banyak untuk menguasai 2 bidang ini saja.

Untuk matematika, aku mulai membaca buku ensiklopedia Matematika yang aku pinjam dari perpustakaan sekolah dan melatih sendiri semua rumus-rumus yang ada di buku itu. Aku ingin menguasai Matematika secara menyeluruh, karena menurutku Matematika merupakan ilmu dasar yang sangat penting agar bisa menguasai Ilmu Pengetahuan dan Teknologi lainnya.

Dan untuk Bahasa Inggris, aku ingin paling tidak setamat SPG, aku bisa membaca dan mengerti buku-buku pengetahuan berbahasa Inggris yang saat itu ada beberapa di perpustakaan sekolah. Selain membaca buku Pelajaran Bahasa Inggris dari sekolah, aku berusaha mencari media lain untuk mempelajarinya. Aku tidak punya uang untuk ikut kursus dan tidak tahu juga kalau ada kursus Bahasa Inggris di Denpasar pada waktu itu.

Setelah mencari beberapa lama, akhirnya aku menemukan pelajaran Bahasa Inggris dari Radio Australia. Aku sangat senang dan membuat komitmen untuk mendengarkan dan belajar Bahasa Inggris setiap pagi pada jam 6.30 sebelum aku berangkat ke sekolah. Saat itu aku hanya memiliki sebuah radio kecil 2 band merek Senator yang  aku beli dengan uang dari Nenek saat akan menamatkan pendidikan SD dulu. Radio yang juga aku bawa saat tinggal di kost sewaktu SMP di SMP Negeri Bantas. Karena kecil dan tidak dari merek terkenal, ia tidak bisa menerima siaran Radio Australia dengan jelas, maka aku menambahkan kabel agar antenanya bisa lebih tinggi. Aku menyangkutkan ujungnya di salah satu cabang pohon rambutan yang tumbuh di depan kamar kostku. Ini sedikit membantu, walaupun siaran Radio Australia masih belum begitu jelas, terutama saat langit mendung disertai kilat, petir apalagi halilintar.

Sebagai bahan bacaan pendukung, aku berusaha mencari buku English from Australia yang diterbitkan oleh penerbit Sinar Harapan Jakarta. Aku bisa membelinya di Toko Buku Bharata yang sekarang menjadi toko buku Berata di jalan Kartini Denpasar. Aku membelinya lengkap jilid I dan II. Kehadiran siaran radio dan buku-buku ini sangat membantu usahaku menguasai Bahasa Inggris. Paling tidak aku sudah sedikit paham bagaimana cara-cara membuat kalimat sederhana Bahasa Inggris dan kelaziman-kelaziman penggunaannya dalam penulisan maupun pengucapan. Dengan belajar dan berlatih sendiri secara tekun dan kontinyu, aku yakin saat aku tamat SPG, aku akan bisa membaca dan menulis Bahasa Inggris dengan baik. Sedangkan untuk berbicara dan mendengarkan, aku harus berusaha lebih banyak lagi.

Tak dapat kubayangkan, bagaimana hidupku saat ini seandainya aku tidak berusaha dengan tekun mempelajari Bahasa Inggris saat itu. Setidaknya, Bahasa Inggris telah menyelamatkanku dua kali. Pertama, saat aku tidak diterima di FKIP UNUD Singaraja. Bahasa Inggris menyelamatkanku, karena aku bisa diterima masuk di PPLP Dhyana Pura dan langsung ditempatkan di hotel Kulkul. Kedua, saat usaha propertiku bangkrut setelah berhenti bekerja di hotel. Bahasa Inggris kembali menyelamatkanku karena metode CARAKITA yang aku susun, dan aku pasang online di www.carakita.com, berhasil melunasi hutang-hutang usahaku, dan bahkan sekarang membawaku ikut menjadi pemegang saham PT Edukasi Carakita, pemilik Kursus Bahasa Inggris EC – English is Easy.

Note : Post ini awalnya saya tulis pada tanggal 23 Nopember 2015. Pada 19 Desember 2019, saham PT Edukasi Carakita sudah saya kembalikan ke pemberinya, yaitu PT Falcon Jakarta.

Baju Barong

Meme meme beliang tiyang baju
Baju kenken beliyang meme cening
Baju poleng misi gambaran barong

Jaler baju makejang pada bersih
Kuku nyalig gigine putih nyalang
Keto solah anake dadi murid

Artinya :

Oh ibuku belikanlah aku baju
Baju yang bagaimana yang ibu belikan kamu?
Baju loreng ada gambaran Barongnya

Celana dan baju semua bersih
Kuku bersih gigimu putih berkilau
Begitu seharusnya pribadimu sebagai seorang murid

Ini adalah salah satu lagu pertama yang diajarkan guru SD-ku kepadaku. Kalau tidak salah, lagu ini diajarkan oleh almarhum Bapak Gede Gejir.. guruku di SD no 1 Tangguntiti. Lagu yang bermakna mengajarkan kebersihan adalah hal yang penting. Aku ingin lagu-lagu seperti ini diajarkan kembali kepada murid-murid kita sekarang… Semoga!!

Mesin Ketik

Sewaktu kelas 3 di SPGN Denpasar, aku menerima beasiswa Supersemar yang jumlahnya kalau tak salah Rp 198.000 (Rp 16.500 x 12 bulan). Beasiswa untuk kelas 3 ini  sebenarnya diberikan per bulan, namun sekolah membijaksanai untuk menyimpannya terlebih dahulu dan membagikannya setelah aku menamatkan sekolah. Aku pernah berpikir kalau uang beasiswa dibagikan, akan aku belikan sebuah mesin ketik, agar aku bisa menulis dan mengirimkannya ke penerbit surat kabar atau majalah.

Dilema bagiku saat uang itu dibagikan, antara membeli mesin ketik yang sudah aku idamkan sejak lama, atau mendaftar ke FKIP Unud Singaraja. Setelah melalui perenungan beberapa lama, akhirnya aku putuskan menggunakan uang beasiswaku untuk membeli formulir dan membayar pendaftaran di FKIP Unud. Aku tangguhkan sementara keinginanku memiliki mesin ketik, karena aku pikir aku akan bisa menggunakan mesin ketik milik sekolah jika aku menjadi guru nantinya.

Keinginanku menjadi guru kandas, karena aku akhirnya terdampar di dunia perhotelan. Aku bersyukur, karena di hotel tempatku bekerja, tersedia sebuah (atau bahkan beberapa buah) mesin ketik yang bisa aku gunakan untuk menuliskan beberapa hal yang aku anggap menarik. Saat kerja malam, aku sering menyalin tulisan tangan yang aku buat, menggunakan mesin ketik itu. Aku sangat senang, karena tulisanku menjadi agak bersih dan rapi, namun aku tak pernah mengirimkannya ke penerbit koran atau majalah, karena aku tak yakin orang akan suka membacanya. Sampai sekarang, aku masih simpan beberapa tulisan hasil ketikan itu dalam sebuah buku album dokumentasi.

Kini, jaman mesin ketik sepertinya telah berlalu, namun membayangkan betapa aku menginginkannya saat itu, terkadang membuatku ingin membelinya saat ini. Tapi untuk apa? Kan sudah ada komputer dan laptop sebagai gantinya….