Carakita.Com in January 2007

Hari ini, saya senang sekali karena tanpa sengaja ketemu arsip carakita.com pada saat awal-awal dilaunching di akhir tahun 2006 – awal 2007. Saat itu saya belum punya internet di rumah. Untuk meng-upload file, saya selalu datang ke warnet. Salah satu warnet yang sering saya kunjungi adalah Wesia Net yang terletak di Jalan Raya Dalung Permai. Terima kasih untuk Wesia Net, karena sudah membantu saya pada waktu itu.

Kembali ke arsip carakita.com. Setelah saya amati, saya tidak percaya bagaimana sederhananya tampilan carakita.com pada saat itu. Namun begitu, ia dapat bekerja dengan sangat baik, mendapatkan pendaftar sangat banyak, dan mampu menutup pengeluaran keluarga saya, dan sekaligus melunasi semua utang saya yang jumlahnya sekitar 175 juta pada waktu itu. Sungguh sebuah keajaiban bagi saya.

Berikut adalah link arsip carakita.com : https://web.archive.org/web/20070104022902

Kenapa Bapak Tidak Kaya?

Dalam perjalanan ke Batungsel, Pupuan hari Minggu malam lalu, aku berdebat dengan Yogi, anak tertuaku.

Yogi : “Kenapa Bapak tidak kaya?”

Saya : “Karena tidak pingin.”

Yogi : “Kenapa tidak pingin? Bukankah kalau kita kaya, kita bisa hidup enak? Bisa tour kemana dan kapan saja kita suka? Makan apa saja yang kita inginkan? Membeli mobil bagus? Tinggal di rumah mewah? Atau membantu orang agar mendapat banyak pahala?

Saya : “Ya, Bapak memang tidak terlalu menginginkan semua itu, dan sudah cukup nyaman dengan keadaan Bapak saat ini.”

Yogi : “Wah, Bapak memiliki mindset yang salah tentang kekayaan. Dalam buku-buku motivasi yang Yogi baca, semua mengulas tentang kesalahan pola pikir kita tentang kekayaan.”

Saya : “Bapak sudah baca hampir sebagian besar buku-buku itu.”

Yogi : ”Terus, kenapa Bapak tidak menerapkannya?”

Saya : “Bapak memiliki konsep yang berbeda tentang hidup dan kekayaan.”

Yogi : “Bedanya bagaimana?”

Saya : “Penjelasannya panjang, dan belum cocok dijelaskan untuk anak seumuran kamu.”

Yogi : “Jadi?”

Saya : “Sementara hiduplah sewajarnya seperti teman-temanmu. Belajar sebaik-baiknya dan gantungkan cita-citamu setinggi-tingginya. Jika saatnya tiba, kamu akan menemukan sendiri penjelasannya.  

Pemborong, Sebuah Kesalahan Memilih Profesi

Di sebuah sore di awal 2004, saya mendapat telpon dari seseorang yang ingin membangun rumah di daerah Kepaon, Denpasar Selatan. Ia mendapatkan nomor telpon saya melalui iklan yang saya pasang di koran Denpost. Kami janjian bertemu. Saya mengarahkan agar kami bisa bertemu di sekitar Denpasar, namun orang itu meminta agar bisa bertemu di rumah saya. Mungkin tujuannya untuk mengetahui kredibilitas saya, takut kalau-kalau saya penipu, hehe….

Pada waktu yang ditentukan, orang itu berhasil tiba di depan gang rumah saya setelah bertanya sana-sini, karena rumah saya memang berlokasi di sebuah gang kecil yang waktu itu masih ditumbuhi beberapa pohon besar di kanan kirinya. Ternyata ia tidak datang sendiri. Ia mengajak temannya yang seorang bule. Saya sedikit kebingungan, karena di rumah saya masih berantakan. Belum ada tempat duduk, dan lantai keramiknya banyak yang terkelupas, belum diflafond, dan tanpa pagar pula. Setelah berpikir sejenak, saya memutuskan untuk mengajak orang itu dan temannya masuk rumah pertama di gang saya yang saat itu kebetulan gerbangnya terbuka. Kami bertiga duduk di teras yang berkeramik, setelah permisi dengan berbisik kepada sang pemilik rumah.

Orang itu berasal dari Jawa Barat dan bekerja di Airport Ngurah Rai. Ia memiliki tanah kavling seluas satu are di Kepaon, dan teman bulenya yang belakangan saya tahu berasal dari Australia akan membuatkannya sebuah rumah di tanah itu. Mereka berniat membangun rumah type 36 tapi dengan beberapa perubahan desain serta menggunakan bahan dengan kualitas lebih bagus agar sedikit sesuai dengan standar bule itu, yang jika ke Bali nantinya akan tinggal di sana. Setelah berbincang agak lama, saya memberikan penawaran dan mereka ingin mempelajarinya terlebih dahulu. Kami bersepakat untuk bertemu tiga hari setelahnya.

Senja hari tiba. Matahari mulai redup dan menghilang perlahan di balik cakrawala. Deru angin muson Barat terdengar jelas dari cabang dan ranting lamtoro yang tumbuh tinggi mengitari rumah saya. Saya menutup pintu dan jendela yang tak bertirai. Titik air mulai menetes dari sela-sela genteng yang retak. Saya mengambil ember dan menaruhnya di lantai untuk menangkap tetesannya yang semakin lama sepertinya semakin deras. Istri saya menyiapkan makan malam seadanya, dan kami makan bersama.

Malam semakin larut. Tanpa sadar jarum jam sudah menunjuk angka 12. Saya berpindah duduk, karena tetesan air mulai terasa membasah di rambut saya. Saya masuk kamar dan memandangi istri dan kedua anak saya yang sudah tertidur pulas. Saya tercenung. Baru kali ini saya benar-benar sadar bahwa hidup saya dan keluarga sudah benar-benar parah. Saya baru menyesal mengapa saya meninggalkan pekerjaan hotel saya, yang seharusnya bisa membuat saya hidup mapan seperti beberapa teman saya. Saya telah membawa dan membiarkan keluarga saya terseret dalam pusaran utang yang tak kelihatan ujung dan pangkalnya.

Tiba-tiba saya teringat buku usang yang saya dapatkan di Legian tempo hari. Saya mengeluarkannya dari almari buku dan mencoba membacanya dengan penerangan sinar lilin, karena listrik sudah padam sejak tadi sore. Dan di tengah kalutnya pikiran saya, mata saya tertuju pada sebuah baris yang selama ini mungkin selalu terlewatkan. “Apakah Anda menyukai pekerjaan Anda?” demikian kira-kira terjemahannya dalam Bahasa Indonesia.

Saya membacanya berulang-ulang seakan tak percaya. Ya, apakah saya menyukai pekerjaan saya? Apakah saya menyukai pekerjaan saya saat ini sebagai pemborong bangunan? Terdengar lolongan anjing di kejauhan. Saya mengambil selimut dan menutupi badan saya yang mulai terasa dingin. Apakah saya menyukai pekerjaan saya? Pertanyaan dari buku usang itu kembali menggema. Rupanya saya belum bisa menjawabnya dengan segera.

Saya melanjutkan membaca, dan akhirnya menemukan cara mengujinya. “Apakah Anda sering lupa waktu, jika sedang berada di tengah-tengah pekerjaan Anda? Apakah Anda sering sampai lupa makan karena keasyikan mengerjakan pekerjaan Anda? Jika jawaban Anda ya, maka Anda berada di jalur yang tepat,” demikian lanjutan kalimat itu, masih di paragraf yang sama. Saya mulai menanyai diri saya, dan sepertinya bisa menemukan jawabannya dengan cepat. Saya selalu merasa tidak nyaman ketika berada di proyek yang saya bangun. Apalagi saat beberapa tukang saya minta kas bon dan saya tidak memegang uang sepeserpun, saya ingin segera lari sejauhnya, hehe.…

Kokok ayam mulai terdengar dari pohon waru di depan rumah saya. Beberapa ayam tetangga memang tidur di sana. Entah mengapa tumben saya belum mengantuk, padahal sudah hampir jam 2 pagi. Deru angin sudah mulai berkurang dan hujan sepertinya sudah benar-benar reda, sementara listrik belum menyala juga. Saya melanjutkan membaca dan tak lupa mencatat di notes kecil yang selalu saya bawa ke mana-mana. “Sekarang bayangkan kalau Anda mempunyai uang sebanyaknya sehingga Anda bisa membeli apa saja yang Anda inginkan. Apakah Anda masih akan mengerjakan pekerjaan Anda yang saat ini?” demikian bunyi kalimat di paragraf selanjutnya.“ Jika ya, berarti Anda berada di jalur yang tepat.”

Saya menanyai diri saya lagi, dan tak perlu menunggu lama, saya segera jawab tidak. Saya senang melihat orang mendirikan bangunan dan merubah tanah kosong menjadi tempat tinggal yang indah dan nyaman, namun untuk menjadi pengusaha dan mendapatkan uang serta hidup dari usaha pemborong bangunan tidak pernah sekalipun menjadi impian saya.

Fajar mulai menyingsing. Saya meniup lilin dan merebahkan diri di atas tikar pandan yang saya duduki. Saya mencoba memejamkan mata, namun pikiran saya masih melayang. Saya mulai menimang-nimang pekerjaan apa yang akan memberikan jawaban ya atas ketiga pertanyaan di atas. Tiba-tiba saya teringat teman bule orang yang datang kemarin siang.

Bersambung……

Gold Quest, dan Mimpi Yang Tertunda

Awal tahun 2002, saya beralih profesi menjadi pemborong bangunan dan meninggalkan jabatan saya sebagai Front Office Manager di hotel The Chedi, Ubud (sekarang Alila Ubud). Harapan saya saat itu adalah agar bisa mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya dan secepat-cepatnya dan segera bisa bebas finansial.

Beberapa proyek rumah berhasil saya dapatkan dari memasang iklan di koran Bali Post dan Denpost. Saya mengajak beberapa saudara dari kampung untuk mengerjakan proyek-proyek itu. Beberapa rumah bisa selesai dengan cepat , namun beberapa ada yang molor sampai beberapa bulan. Saya tetap memasang iklan agar mendapatkan lebih banyak order. Pernah sekali waktu saya mengerjakan lima unit rumah sekaligus di lokasi berbeda dengan pemilik yang berbeda pula. Teman-teman hotel saya terheran-heran, karena melihat saya bisa menjalani profesi baru saya yang sebenarnya sangat jauh dari dunia perhotelan yang saya geluti sebelumnya.

Masalah mulai muncul, ketika saya mengambil beberapa proyek yang agak besar dengan harapan untung yang lebih besar. Karena kurang pengalaman, beberapa proyek molor jauh dari rencana, dan pemilik tidak mau menyelesaikan pembayaran sesuai terminnya. Saya harus menalangi pembayaran bahan dan tukang-tukang saya dengan meminjam uang di BPD Bali. Situasi semakin memburuk, karena beberapa pekerjaan tidak sesuai spesifikasi dan pemilik meminta pembongkaran dan pemasangan ulang.

Saya menambah frekuensi pemasangan iklan untuk mendapatkan proyek baru. Saya berhasil mendapatkannya, namun harganya sangat rendah. Saya menggunakan uang mukanya yang sekitar sepuluh sampai dua puluh persen dari nilai bangunan untuk menalangi sementara tagihan-tagihan di toko bangunan dan membayar tukang-tukang yang mengancam mogok. Uang muka ini jauh dari cukup, karena beberapa proyek sebelumnya akhirnya benar-benar mangkrak, dan pemiliknya mencari pemborong lain dengan tidak membayar sisa tagihan saya.

Saya benar-benar terpuruk. Utang saya di toko-toko bangunan semakin menumpuk. Setiap hari ada saja yang datang ke rumah saya untuk menanyakan pembayaran. Saya berusaha menemui mereka dan menjelaskan keadaan saya. Beberapa diantara mereka mau mengerti, namun beberapa mengancam akan membongkar rumah yang saya bangun atau melaporkan saya ke polisi. Sementara itu petugas dari Bank BPD Bali hampir setiap hari menelpon meminta saya mencicil pinjaman atau kalau bisa bunganya saja. Saya bahkan sudah diblacklist di Bank Indonesia karena tiga kali cek dan BG yang saya keluarkan tidak bisa dicairkan tepat waktu.

Di tengah keterpurukan saya, teman saya yang sudah lebih dulu berhenti dari hotel dan mulai menekuni bisnis MLM Gold Quest mengajak saya bergabung. Saya tertarik, karena kelihatannya sistemnya sangat mudah dan akan tetap bisa menghasilkan meskipun tidak dikerjakan lagi, bahkan bisa diwariskan pula. Saya mengambil dua unit menggunakan uang muka dari proyek baru saya yang lainnya..hehe, ini harapan saya agar nantinya bisa diwariskan kepada kedua anak saya. Saya sangat bersemangat mengerjakannya di sela-sela keterpurukan bisnis pemborong saya. Saya berpikir kalau utang-utang saya akan segera lunas dari aliran komisi yang dibayarkan downline saya. Bahkan saya berkhayal tidak lama lagi akan segera mencapai cita-cita saya untuk bebas finansial.

Saya berusaha mendekati beberapa teman saya dan mengajaknya bergabung. Namun dibalik dugaan saya, semua menyatakan sudah tahu bisnis ini dan ingin melihat saya sukses terlebih dahulu, baru mau bergabung. Ternyata saya yang kurang gaul. Gold Quest memang sudah hadir di Bali sekitar dua tahun sebelum saya bergabung. Beberapa orang mungkin sudah pernah menawarkannya kepada saya, tapi saya tidak menanggapinya. Setelah menjalaninya selama sekitar enam bulan, tidak satupun orang yang bisa saya buat bergabung menjadi downline saya. Saya mulai putus asa, ditambah keadaan bisnis pemborong saya yang bagai kerakap tumbuh di batu, hidup segan mati tak mau. Saya mengalami dua kegagalan bisnis sekaligus.

Satu pagi di awal Oktober 2003, teman yang dulu mengajak saya bergabung di bisnis MLM Gold Quest  menelpon. Akhir bulan ini akan diadakan “Life Changing Boot Camp” di Bedugul. Ia mengajak saya bergabung dengan membayar sebesar Rp 1,5 juta, tapi akan dipinjami dulu oleh salah seorang leader Gold Quest sebesar Rp 1 juta. Jadi saya tinggal mengusahakan Rp 500 ribu saja. Saya benar-benar tidak punya uang waktu itu, namun saya begitu ingin mengikuti boot camp ini karena sesuai namanya “Life Changing” dan hidup saya memang pantas di”change”, hehe…

Saya bicara kepada istri saya untuk kalau mungkin meminta atau meminjam uang darinya. Ia marah besar dan mengatakan saya belum kapok juga. Saya akhirnya memutuskan untuk menarik tabungan pendidikan yang kami alokasikan untuk anak kami, karena berpikir bootcamp ini sangatlah penting. Transportasi dan lainnya saya bisa nebeng dengan teman saya.

Singkat kata, bootcamp dimulai. Hal terpenting yang saya dapatkan adalah “jika kita berpikir bahwa kita bisa mendapatkan sesuatu, maka kita benar-benar akan mendapatkannya.” Waktu itu satu per satu peserta disuruh maju ke panggung, meneriakkan sekeras mungkin apa yang ingin mereka raih dalam 5 tahun dari saat itu. “Saya bebas utangngngng……..” teriak saya sekerasnya sampai berguling-guling di atas panggung. Saya mengulangi teriakan keras itu sampai lebih dari sepuluh kali. Sampai akhirnya, saya merasakan sesuatu bergerak dalam alam bawah sadar saya. Saya merasakan sinar terang mulai memancari pikiran saya. Dan saya yakinkan bahwa lima tahun setelah bootcamp itu, saya sudah terbebas dari masalah utang saya.

Setelah bootcamp selesai, saya melakukan aktivitas saya seperti biasa. Saya melanjutkan proyek renovasi sebuah villa di kawasan Legian. Meskipun utang saya masih menumpuk, saya memiliki keyakinan bahwa lima tahun lagi utang-utang itu akan lunas semuanya. Saya bisa yakin seyakin-yakinnya, karena karisma pembina bootcamp seakan menyihir diri saya menjadi pribadi baru yang penuh percaya diri, walaupun situasi sulit tampak nyata di depan mata. Bootcamp itu benar-benar sesuatu, pikir saya.

Seminggu berlalu, saya tetap menjalani hari-hari seperti biasa. Sampai pada suatu sore, seorang tukang saya memanggil saya dan menunjukkan tumpukan buku di lemari kaca di sebuah ruangan besar yang sudah ditumbuhi rumput-rumput liar dan beberapa tanaman merambat lainnya. Saya menemui pemilik villa, dan menanyakan mau diapakan buku-buku itu. “Dibuang saja”, katanya, “karena tamu yang mengontrak sudah pergi beberapa bulan dan tidak akan kembali lagi.” “Boleh saya yang ambil, Bu?” kata saya, karena saya memang pencinta buku dari sejak saya sekolah dulu. “Tentu saja, kalau Pak Wayan mau,”katanya. Wah ini rejeki nomplok, pikir saya.

Esok harinya, saya membawa karung untuk tempat buku-buku itu. Total ada tiga karung besar dan saya bawa satu per satu dengan motor saya. Saban malam, saya sortir buku-buku itu, dan menaruh yang paling menarik di kamar tidur saya. Dan akhirnya saya menemukan sebuah buku usang berbahasa Inggris, yang mana setelah saya baca, saya menemukan “Rahasia Memiliki Daya Tarik Uang”. Ini benar-benar mukjizat dari bootcamp, pikir saya.

Bersambung…

Bahasa Inggris Adalah Penyelamatku

Saat bulan-bulan awal di bangku SPG, aku kerap dijadikan gurauan dan bahkan ejekan oleh beberapa teman dan kakak kelasku. Menurut mereka, aku ini terlalu kecil jika akan menjadi guru nantinya, dan akan dijadikan mainan oleh murid-muridku. Memang, jika dibandingkan dengan teman-teman sebayaku, saat itu aku termasuk kecil. Berat badanku saat masuk SPG sekira 37,5 kg, sedang tinggi badanku 145 cm. Gurauan ini sering membuat aku uring-uringan dan terkadang tak bisa tidur. Aku berpikir, jangan-jangan apa yang mereka katakan benar dan aku menjadi mainan murid-muridku saat aku mengajar nantinya. Siang-malam aku memikirkan ini, sampai suatu ketika aku hampir saja benar-benar memutuskan untuk berhenti sekolah dan kembali ke kampungku.

Setelah melewati berbagai pertimbangan, Tuhan akhirnya memberikan sinar terangnya sehingga aku mengurungkan niatku untuk berhenti sekolah. Aku tidak ingin mengecewakan banyak orang, terutama orang tua dan guru-guruku di SD dulu, yang dengan semangatnya menginginkan aku agar melanjutkan sekolahku setinggi-tingginya. Sejak memasuki semester 2, aku mulai rajin bergelayut di pintu kamarkostku, agar aku bisa sedikit bertambah tinggi; serta mulai makan agak banyak agar berat badanku bertambah pula. Aku tidak peduli lagi apakah aku akan menjadi guru atau tidak nantinya. Yang terpenting bagiku saat itu adalah menamatkan dan memiliki ijasah sekolah menengah atas.

Aku mulai memfokuskan pikiran dan waktuku ke 2 mata pelajaran saja, yaitu Matematika dan Bahasa Inggris. Aku mengurangi perhatianku ke bidang-bidang yang aku anggap tidak begitu penting, seperti Pedagogik, Didaktik Metodik, Psikologi, PKK, IPA, IPS, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Bali. Setiap hari aku meluangkan waktu cukup banyak untuk menguasai 2 bidang ini saja.

Untuk matematika, aku mulai membaca buku ensiklopedia Matematika yang aku pinjam dari perpustakaan sekolah dan melatih sendiri semua rumus-rumus yang ada di buku itu. Aku ingin menguasai Matematika secara menyeluruh, karena menurutku Matematika merupakan ilmu dasar yang sangat penting agar bisa menguasai Ilmu Pengetahuan dan Teknologi lainnya.

Dan untuk Bahasa Inggris, aku ingin paling tidak setamat SPG, aku bisa membaca dan mengerti buku-buku pengetahuan berbahasa Inggris yang saat itu ada beberapa di perpustakaan sekolah. Selain membaca buku Pelajaran Bahasa Inggris dari sekolah, aku berusaha mencari media lain untuk mempelajarinya. Aku tidak punya uang untuk ikut kursus dan tidak tahu juga kalau ada kursus Bahasa Inggris di Denpasar pada waktu itu.

Setelah mencari beberapa lama, akhirnya aku menemukan pelajaran Bahasa Inggris dari Radio Australia. Aku sangat senang dan membuat komitmen untuk mendengarkan dan belajar Bahasa Inggris setiap pagi pada jam 6.30 sebelum aku berangkat ke sekolah. Saat itu aku hanya memiliki sebuah radio kecil 2 band merek Senator yang  aku beli dengan uang dari Nenek saat akan menamatkan pendidikan SD dulu. Radio yang juga aku bawa saat tinggal di kost sewaktu SMP di SMP Negeri Bantas. Karena kecil dan tidak dari merek terkenal, ia tidak bisa menerima siaran Radio Australia dengan jelas, maka aku menambahkan kabel agar antenanya bisa lebih tinggi. Aku menyangkutkan ujungnya di salah satu cabang pohon rambutan yang tumbuh di depan kamar kostku. Ini sedikit membantu, walaupun siaran Radio Australia masih belum begitu jelas, terutama saat langit mendung disertai kilat, petir apalagi halilintar.

Sebagai bahan bacaan pendukung, aku berusaha mencari buku English from Australia yang diterbitkan oleh penerbit Sinar Harapan Jakarta. Aku bisa membelinya di Toko Buku Bharata yang sekarang menjadi toko buku Berata di jalan Kartini Denpasar. Aku membelinya lengkap jilid I dan II. Kehadiran siaran radio dan buku-buku ini sangat membantu usahaku menguasai Bahasa Inggris. Paling tidak aku sudah sedikit paham bagaimana cara-cara membuat kalimat sederhana Bahasa Inggris dan kelaziman-kelaziman penggunaannya dalam penulisan maupun pengucapan. Dengan belajar dan berlatih sendiri secara tekun dan kontinyu, aku yakin saat aku tamat SPG, aku akan bisa membaca dan menulis Bahasa Inggris dengan baik. Sedangkan untuk berbicara dan mendengarkan, aku harus berusaha lebih banyak lagi.

Tak dapat kubayangkan, bagaimana hidupku saat ini seandainya aku tidak berusaha dengan tekun mempelajari Bahasa Inggris saat itu. Setidaknya, Bahasa Inggris telah menyelamatkanku dua kali. Pertama, saat aku tidak diterima di FKIP UNUD Singaraja. Bahasa Inggris menyelamatkanku, karena aku bisa diterima masuk di PPLP Dhyana Pura dan langsung ditempatkan di hotel Kulkul. Kedua, saat usaha propertiku bangkrut setelah berhenti bekerja di hotel. Bahasa Inggris kembali menyelamatkanku karena metode CARAKITA yang aku susun, dan aku pasang online di www.carakita.com, berhasil melunasi hutang-hutang usahaku, dan bahkan sekarang membawaku ikut menjadi pemegang saham PT Edukasi Carakita, pemilik Kursus Bahasa Inggris EC – English is Easy.

Note : Post ini awalnya saya tulis pada tanggal 23 Nopember 2015. Pada 19 Desember 2019, saham PT Edukasi Carakita sudah saya kembalikan ke pemberinya, yaitu PT Falcon Jakarta.

Belajar Mencari Uang

Sebagai anak petani kampung, aku harus ikut rekan-rekan kami mencari penghasilan. Ada beberapa yang biasanya kami lakukan :

Munuh :
Munuh adalah mencari sisa-sisa gabah atau bulir padi yang tertinggal setelah panen dilakukan pemiliknya. Sehabis makan siang setelah pulang sekolah, aku ambil niru dan sebilah bambu khusus untuk merontokkan padi, lalu berangkat ke sawah di sebelah Barat desaku. Tak kulupakan baju tangan panjang dan topi bambu yang sedikit lebar penahan terik mentari.

Bergegas aku mencari tumpukan jerami yang sudah ditinggalkan pemiliknya, karena panen mereka usai. Dari balik tumpukan itu, aku kumpulkan satu demi satu biji gabah ke atas niru yang aku bawa. Setelah terkumpul, aku membersihkannya, lalu meniriskannya melalui desir angin agar bersih. Setelahnya, aku masukkan ke karung kecil yang aku siapkan. Setengah hari, biasanya aku bisa kumpulkan 2-3 kilo gabah basah. Langsung aku jual ke pengepul, dan uangnya aku belikan segelas susu panas dan sebungkus roti.

Mengumpulkan Pasir :
Jika panen usai, kami biasa mencari atau mengumpulkan pasir di sungai. Bukan di sungai Lambukku, melainkan di sungai Yeh Ho, yang berjarak sekitar 1 km dari rumahku. Peralatan yang aku siapkan adalah sekop, ayakan, dan ceper atau penampung. Setelah terkumpul beberapa ceper, pasir kujual ke pengepul, dan mereka akan menjual lagi setelah terkumpul minimal 1 truk. Seperti biasa, uangnya kujadikan segelas susu dan sebungkus roti.

Memecah Batu :
Pekerjaan lain yang tersedia adalah memecah batu kerikil, menjadi batu kek atau gladag. Nenek bersamaku untuk pekerjaan ini. Batu pecah ini diperlukan untuk pengaspalan jalan, sebelum ada sistem hotmix. Kami harus mengambil batu di sungai Lambuk atau Yeh Ho, ceper demi ceper, atau bakul demi bakul. Kemudian memecahnya dengan palu. Setelah terkumpul agak banyak, baru bisa dijual. Beda dengan gabah dan pasir, batu pecah ini tak bisa kami jual setiap hari, jadi aku harus bersabar untuk minum susu dan makan roti. Biasanya kami baru bisa mengumpulkan setengah M3 dalam waktu satu minggu.

Menaikkan atau menurunkan batu, pasir atau kek :
Pekerjaan lain yang tersedia untuk anak-anak sepertiku adalah menaikkan atau menurunkan batu, pasir, atau kek ke dan dari truk. Kami hanya bisa sebagai pembantu untuk pekerjaan ini, karena tenaga kami tidak cukup kuat untuk melakukannya. Namun demikian, kami bisa merasakan susahnya mencari dan mengumpulkan uang. Terkadang, kami ikut diajak menurunkan bahan-bahan itu ke desa yang jauh seperti Guniyang, Selemadeg. Upahnya langsung bisa kami terima saat pulang, jadi langsung bisa kubelikan segelas susu dan roti.

Ada beberapa pekerjaan lain yang kadang aku ambil, misalnya menjual ikan atau kepiting hasil tangkapan, menjual nangka dengan sistem bagi hasil (bisa menjual 3 sisir mendapat upah 1 sisir), menjualkan pepes hiu, menjualkan kroto atau telur semut merah, dan sebagainya. Aku menikmati semua pekerjaan-pekerjaan itu tanpa menyadari kalau semua itu akan sangat berguna saat aku menghadapi kerasnya hidup di hari-hari selanjutnya. Satu hal yang aku petik adalah “Mengeluh dan menyalahkan bukanlah sebuah pilihan.”