Nenek

Ni Nyoman Simpen namanya. Beliau adalah nenekku. Bukan nenek kandung, karena Beliau adalah istri dari saudara kakek kandungku. Beliau memelihara aku sejak kecil. Maklum, aku adalah seorang anak tiri.  Ibuku bercerai sebelum melahirkanku, dan menikah lagi kurang setahun setelah aku dilahirkan. Sejak saat itu aku lebih banyak hidup bersama Nenek.

Nenek tidak dikaruniai anak. Suaminya (saudara kakek saya) meninggal saat pernikahan mereka berjalan sekitar 10 tahunan. Nenek berasal dari Tegaltemu, sebuah desa di seberang sungai Yeh Ho, yang berjarak sekitar 5 kilometer dari kampungku. Walaupun suaminya telah meninggal, Nenek memutuskan untuk tetap tinggal di rumah kami, dan tidak menikah lagi.

Nenek kini telah tiada. Beliau meninggal tahun 2000. Begitu banyak yang ingin kuceritakan tentang Beliau, tentang masa kecilku bersamanya, tentang kasih sayangnya yang tanpa batas, tentang harapan-harapan sederhananya, keikhlasan hidupnya, dan banyak lagi yang lainnya. Semoga bisa kutuliskan di lembar-lembar berikutnya….

Bahasa Inggris Adalah Penyelamatku

Saat bulan-bulan awal di bangku SPG, aku kerap dijadikan gurauan dan bahkan ejekan oleh beberapa teman dan kakak kelasku. Menurut mereka, aku ini terlalu kecil jika akan menjadi guru nantinya, dan akan dijadikan mainan oleh murid-muridku. Memang, jika dibandingkan dengan teman-teman sebayaku, saat itu aku termasuk kecil. Berat badanku saat masuk SPG sekira 37,5 kg, sedang tinggi badanku 145 cm. Gurauan ini sering membuat aku uring-uringan dan terkadang tak bisa tidur. Aku berpikir, jangan-jangan apa yang mereka katakan benar dan aku menjadi mainan murid-muridku saat aku mengajar nantinya. Siang-malam aku memikirkan ini, sampai suatu ketika aku hampir saja benar-benar memutuskan untuk berhenti sekolah dan kembali ke kampungku.

Setelah melewati berbagai pertimbangan, Tuhan akhirnya memberikan sinar terangnya sehingga aku mengurungkan niatku untuk berhenti sekolah. Aku tidak ingin mengecewakan banyak orang, terutama orang tua dan guru-guruku di SD dulu, yang dengan semangatnya menginginkan aku agar melanjutkan sekolahku setinggi-tingginya. Sejak memasuki semester 2, aku mulai rajin bergelayut di pintu kamarkostku, agar aku bisa sedikit bertambah tinggi; serta mulai makan agak banyak agar berat badanku bertambah pula. Aku tidak peduli lagi apakah aku akan menjadi guru atau tidak nantinya. Yang terpenting bagiku saat itu adalah menamatkan dan memiliki ijasah sekolah menengah atas.

Aku mulai memfokuskan pikiran dan waktuku ke 2 mata pelajaran saja, yaitu Matematika dan Bahasa Inggris. Aku mengurangi perhatianku ke bidang-bidang yang aku anggap tidak begitu penting, seperti Pedagogik, Didaktik Metodik, Psikologi, PKK, IPA, IPS, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Bali. Setiap hari aku meluangkan waktu cukup banyak untuk menguasai 2 bidang ini saja.

Untuk matematika, aku mulai membaca buku ensiklopedia Matematika yang aku pinjam dari perpustakaan sekolah dan melatih sendiri semua rumus-rumus yang ada di buku itu. Aku ingin menguasai Matematika secara menyeluruh, karena menurutku Matematika merupakan ilmu dasar yang sangat penting agar bisa menguasai Ilmu Pengetahuan dan Teknologi lainnya.

Dan untuk Bahasa Inggris, aku ingin paling tidak setamat SPG, aku bisa membaca dan mengerti buku-buku pengetahuan berbahasa Inggris yang saat itu ada beberapa di perpustakaan sekolah. Selain membaca buku Pelajaran Bahasa Inggris dari sekolah, aku berusaha mencari media lain untuk mempelajarinya. Aku tidak punya uang untuk ikut kursus dan tidak tahu juga kalau ada kursus Bahasa Inggris di Denpasar pada waktu itu.

Setelah mencari beberapa lama, akhirnya aku menemukan pelajaran Bahasa Inggris dari Radio Australia. Aku sangat senang dan membuat komitmen untuk mendengarkan dan belajar Bahasa Inggris setiap pagi pada jam 6.30 sebelum aku berangkat ke sekolah. Saat itu aku hanya memiliki sebuah radio kecil 2 band merek Senator yang  aku beli dengan uang dari Nenek saat akan menamatkan pendidikan SD dulu. Radio yang juga aku bawa saat tinggal di kost sewaktu SMP di SMP Negeri Bantas. Karena kecil dan tidak dari merek terkenal, ia tidak bisa menerima siaran Radio Australia dengan jelas, maka aku menambahkan kabel agar antenanya bisa lebih tinggi. Aku menyangkutkan ujungnya di salah satu cabang pohon rambutan yang tumbuh di depan kamar kostku. Ini sedikit membantu, walaupun siaran Radio Australia masih belum begitu jelas, terutama saat langit mendung disertai kilat, petir apalagi halilintar.

Sebagai bahan bacaan pendukung, aku berusaha mencari buku English from Australia yang diterbitkan oleh penerbit Sinar Harapan Jakarta. Aku bisa membelinya di Toko Buku Bharata yang sekarang menjadi toko buku Berata di jalan Kartini Denpasar. Aku membelinya lengkap jilid I dan II. Kehadiran siaran radio dan buku-buku ini sangat membantu usahaku menguasai Bahasa Inggris. Paling tidak aku sudah sedikit paham bagaimana cara-cara membuat kalimat sederhana Bahasa Inggris dan kelaziman-kelaziman penggunaannya dalam penulisan maupun pengucapan. Dengan belajar dan berlatih sendiri secara tekun dan kontinyu, aku yakin saat aku tamat SPG, aku akan bisa membaca dan menulis Bahasa Inggris dengan baik. Sedangkan untuk berbicara dan mendengarkan, aku harus berusaha lebih banyak lagi.

Tak dapat kubayangkan, bagaimana hidupku saat ini seandainya aku tidak berusaha dengan tekun mempelajari Bahasa Inggris saat itu. Setidaknya, Bahasa Inggris telah menyelamatkanku dua kali. Pertama, saat aku tidak diterima di FKIP UNUD Singaraja. Bahasa Inggris menyelamatkanku, karena aku bisa diterima masuk di PPLP Dhyana Pura dan langsung ditempatkan di hotel Kulkul. Kedua, saat usaha propertiku bangkrut setelah berhenti bekerja di hotel. Bahasa Inggris kembali menyelamatkanku karena metode CARAKITA yang aku susun, dan aku pasang online di www.carakita.com, berhasil melunasi hutang-hutang usahaku, dan bahkan sekarang membawaku ikut menjadi pemegang saham PT Edukasi Carakita, pemilik Kursus Bahasa Inggris EC – English is Easy.

Note : Post ini awalnya saya tulis pada tanggal 23 Nopember 2015. Pada 19 Desember 2019, saham PT Edukasi Carakita sudah saya kembalikan ke pemberinya, yaitu PT Falcon Jakarta.

Baju Barong

Meme meme beliang tiyang baju
Baju kenken beliyang meme cening
Baju poleng misi gambaran barong

Jaler baju makejang pada bersih
Kuku nyalig gigine putih nyalang
Keto solah anake dadi murid

Artinya :

Oh ibuku belikanlah aku baju
Baju yang bagaimana yang ibu belikan kamu?
Baju loreng ada gambaran Barongnya

Celana dan baju semua bersih
Kuku bersih gigimu putih berkilau
Begitu seharusnya pribadimu sebagai seorang murid

Ini adalah salah satu lagu pertama yang diajarkan guru SD-ku kepadaku. Kalau tidak salah, lagu ini diajarkan oleh almarhum Bapak Gede Gejir.. guruku di SD no 1 Tangguntiti. Lagu yang bermakna mengajarkan kebersihan adalah hal yang penting. Aku ingin lagu-lagu seperti ini diajarkan kembali kepada murid-murid kita sekarang… Semoga!!

Mesin Ketik

Sewaktu kelas 3 di SPGN Denpasar, aku menerima beasiswa Supersemar yang jumlahnya kalau tak salah Rp 198.000 (Rp 16.500 x 12 bulan). Beasiswa untuk kelas 3 ini  sebenarnya diberikan per bulan, namun sekolah membijaksanai untuk menyimpannya terlebih dahulu dan membagikannya setelah aku menamatkan sekolah. Aku pernah berpikir kalau uang beasiswa dibagikan, akan aku belikan sebuah mesin ketik, agar aku bisa menulis dan mengirimkannya ke penerbit surat kabar atau majalah.

Dilema bagiku saat uang itu dibagikan, antara membeli mesin ketik yang sudah aku idamkan sejak lama, atau mendaftar ke FKIP Unud Singaraja. Setelah melalui perenungan beberapa lama, akhirnya aku putuskan menggunakan uang beasiswaku untuk membeli formulir dan membayar pendaftaran di FKIP Unud. Aku tangguhkan sementara keinginanku memiliki mesin ketik, karena aku pikir aku akan bisa menggunakan mesin ketik milik sekolah jika aku menjadi guru nantinya.

Keinginanku menjadi guru kandas, karena aku akhirnya terdampar di dunia perhotelan. Aku bersyukur, karena di hotel tempatku bekerja, tersedia sebuah (atau bahkan beberapa buah) mesin ketik yang bisa aku gunakan untuk menuliskan beberapa hal yang aku anggap menarik. Saat kerja malam, aku sering menyalin tulisan tangan yang aku buat, menggunakan mesin ketik itu. Aku sangat senang, karena tulisanku menjadi agak bersih dan rapi, namun aku tak pernah mengirimkannya ke penerbit koran atau majalah, karena aku tak yakin orang akan suka membacanya. Sampai sekarang, aku masih simpan beberapa tulisan hasil ketikan itu dalam sebuah buku album dokumentasi.

Kini, jaman mesin ketik sepertinya telah berlalu, namun membayangkan betapa aku menginginkannya saat itu, terkadang membuatku ingin membelinya saat ini. Tapi untuk apa? Kan sudah ada komputer dan laptop sebagai gantinya….

Menulis, Pentingkah?

Saya teringat teman bule saya, yang sekarang sudah berusia 72 tahun. Meskipun usianya sudah tidak muda lagi, ia masih memiliki dua kebiasaan yang bagi saya sangat penting dalam hidup kita, yaitu membaca dan menulis.

Kemanapun ia pergi, ia selalu membawa buku bacaan (baca: novel), dan ia menyediakan waktu khusus satu atau dua jam setiap hari untuk membacanya. Suatu hari, saya bertanya mengapa ia senang membaca, walaupun ia bukan seorang yang berkecimpung di dunia pendidikan. Ia mengatakan bahwa ia sudah mulai membaca buku cerita sejak ia masih di bangku Sekolah Dasar. Waktu itu ia mencontoh kedua orang tuanya, yang katanya selalu menyediakan waktu untuk membaca setiap harinya. Ia juga sangat tertarik melihat deretan buku bacaan di lemari khusus di rumahnya. Ia mengatakan bahwa tetangga, teman-teman, dan beberapa kenalannya juga melakukan hal yang sama. Saya akhirnya berkesimpulan bahwa membaca adalah sebuah kebiasaan yang sudah turun temurun di negaranya. Maka tak heran, negaranya menjadi salah satu negara maju, karena sebagian besar penduduknya gemar membaca.

Disamping kebiasaan membaca, teman saya ini juga memiliki kebiasaan menulis. Meskipun tidak menulis cerita atau novel, ia biasa menuliskan apa-apa yang ia rencanakan untuk dilakukan esok hari, minggu depan, bulan depan atau beberapa tahun mendatang. Malam hari, terkadang ia menuliskan beberapa kejadian di hari itu, kemudian memberinya komentar dan tanggapan. Sayang sekali pada jamannya belum ada “blog” seperti sekarang, jadi tulisan-tulisannya tidak tersimpan dan hilang dtelan jaman.

Di negara kita Indonesia, hanya sebagian kecil dari kita yang memiliki kebiasaan membaca, apalagi menulis. Menurut pengamatan saya, mungkin tidak melebihi satu persen dari total penduduk Indonesia yang 250-an juta itu. Mengapa bisa seperti itu? Karena memang tidak atau belum dibudayakan. Saya adalah orang yang sangat ingin budaya membaca dan menulis ini menjadi budaya kita juga. Karena itu di setiap kesempatan, saya selalu menganjurkan murid-murid saya untuk belajar menulis. Karena dengan menulis kita akan bisa mengingat dan mengahafal lebih cepat dan sekaligus menemukan ide-ide kreatif yang sangat diperlukan dalam hidup kita.

Dalam belajar Bahasa Inggris, saya menganjurkan mereka belajar dan berlatih Bahasa Inggris menggunakan sistem buku harian.

Bagaimana caranya? Setiap malam sebelum tidur, kita harus menuliskan apa-apa yang akan kita lakukan esok hari, apa-apa yang sudah kita lakukan pada hari itu, dan kalau bisa memberinya tanggapan dan komentar. Semuanya ditulis menggunakan Bahasa Inggris. Jangan khawatir tentang benar dan salah terlebih dahulu, yang penting kita menuliskannya semampu kita. Cepat atau lambat, kita akan tahu penulisan kita benar atau salah.

Dimana menulisnya? Saya sarankan menuliskannya di sebuah buku, bukan di komputer. Mengapa? Karena dengan menulis menggunakan tangan, kita akan lebih lama mengingatnya dan tidak perlu ribet jika ingin membacanya lagi.

Apakah cara ini pasti berhasil? Saya menjamin sepanjang kita melakukannya dengan kontinyu. Kontinyu artinya terus menerus setiap malam, dan tidak pernah melewatkannya dengan alasan apapun. Ketekunan (perseverance) adalah kunci utama untuk meraih kesuksesan apapun.

Apakah saya pernah melakukannya? Ya, saya sudah melakukannya dulu setamat SPG. Saya menulis setiap malam di buku harian saya menggunakan Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia juga. Buku-buku harian itu masih saya simpan sampai sekarang. Jika sekarang membacanya, saya terkadang tertawa sendiri melihat kemampuan Bahasa Inggris saya pada waktu itu. Ada banyak hal yang seharusnya bisa saya tulis dengan lebih baik, jika kemampuan Bahasa Inggris saya sudah meningkat, baik dalam hal struktur atau tata bahasa, maupun dalam penulisan kata-kata atau vocab-nya. Saya membiarkannya tetap seperti itu dan tidak mengoreksinya. Ia adalah catatan perkembangan saya dalam belajar Bahasa Inggris.

Bagaimana dengan kebiasaan membaca? Terus terang saja, saya tidak bisa mengikuti kebiasaan teman bule saya yang menyediakan waktu membaca (novel) setiap hari. Saya lebih banyak membaca hal-hal yang berhubungan dengan hal-hal praktis seperti peningkatan kemampuan diri, cara mencari uang, cara hidup lebih mudah, cara melunasi utang dengan cepat, serta cara mencari kedamaian hati. Hanya beberapa novel saja yang bisa saya selesaikan membacanya, seperti Laskar Pelangi (4 seri), Dirty Business, Beyond the Himalayas. Ini karena saya harus realistis. Tuntutan hidup saya tidak memungkinkan saya untuk membaca hal-hal yang terlalu jauh dengan kehidupan keseharian yang harus saya perjuangkan dengan keras, bahkan sampai hari ini. Namun saya harus mengakui, bahwa kebiasaan membaca (novel) akan membawa manfaat yang sangat besar dalam hidup kita. Terutama dalam menambah wawasan dan menemukan inspirasi untuk inovasi dan peningkatan kualitas hidup dan kehidupan kita.

Eternal Freedom atau Kebebasan Abadi

Sebagian besar dari kita, termasuk penulis juga, sangat sulit menjawab pertanyaan ini sebelumnya. Hanya beberapa orang atau orang tertentu saja yang bisa mendefinisikan tujuan hidupnya dengan jelas sejak awal. Beberapa yang lainnya, mungkin termasuk anda, sedang berusaha mengungkapkannya, dan selebihnya tak peduli sama sekali.

Jika saat ini perasaan anda sedang galau, pikiran anda kacau balau, utang menumpuk dan segera jatuh tempo, istri atau suami marah-marah, anak mengunci pintu minta dibelikan motor baru, maka ada baiknya anda duduk sebentar, tarik nafas, dan mulai tanya diri anda, mengapa anda harus menghadapai semua masalah ini setiap hari.

Biasanya kita tidak bisa menjawab pertanyaan ini segera, karena ini memang pertanyaan yang sulit dijawab. Tapi meskipun sulit, pertanyaan ini harus kita carikan jawabannya.

Tujuan hidup setiap makhluk sebenarnya adalah kebebasan abadi, yaitu terlepasnya kita dari hal-hal yang berhubungan dengan keduniawian, hal-hal yang bersifat duniawi. Beberapa hal duniawi itu diantaranya : rasa senang, sedih, rasa sakit, keinginan memiliki sesuatu, keinginan menguasai, lapar, haus, puas, dan lain sebagainya.

Anda boleh tidak setuju dengan pernyataan ini, tapi penulis yakin, semakin lama anda berusaha merumuskan tujuan hidup anda, maka anda akan semakin memberikan persetujuan anda akan hal ini. Kebebasan abadi adalah api kedamaian yang tak pernah padam. Ia selalu ada dan tersedia untuk siapa saja yang mau dan ingin mencapainya.

Pertanyaan yang muncul selanjutnya adalah, apakah kita mungkin mencapainya dalam hidup kita ini? Kalau mungkin, bagaimana caranya? Apa yang harus kita lakukan untuk menuju ke sana? Mari kita sama-sama belajar dan saling mengisi, hingga suatu ketika nanti, kebebasan abadi itu bisa kita raih bersama.

catatan : Judul post diganti dari “Apakah Tujuan Hidup Anda?”

Awas! Uang Sama Dengan Air Laut

Uang sama dengan air laut? Tidak, saya tidak bermaksud menyamakan uang dengan air laut. Juga tidak ingin mengatakan, uang dapat dibuat dengan air laut. Yang saya maksudkan adalah kalau kita minum air laut, semakin banyak kita minum maka kita akan semakin kehausan.

Sama halnya dengan uang; semakin banyak kita miliki, maka kita akan semakin ingin memilikinya, lagi dan lagi. Sampai pada batas tertentu, kehausan memiliki uang tentu merupakan hal yang baik, bahkan sangat dianjurkan. Motivasi memiliki uang yang banyak akan membuat kita mempunyai semangat hidup yang tinggi.  Banyak uang juga memungkinkan kita untuk melakukan banyak hal berguna, baik untuk kita maupun kehidupan pada umumnya.

Tapi, jika uang yang kita miliki sudah berlebihan, dan kita tetap ingin memiliki lebih banyak lagi, atau kita tetap ingin minum lebih banyak lagi, maka selain membuat tambah haus, uang akan membawa kita tenggelam ke dasar lautan. Mengapa? Karena semakin banyak minum air laut, perut kita akan semakin besar dan semakin berat untuk bertahan di permukaan air, dan kita akan segera tenggelam.

Kita sering mendengar, bahwa kalau kita punya banyak uang, kita akan mendapatkan kebebasan finansial. Kurang lebih yang dimaksud adalah tanpa bekerja lagi, kita tetap mendapatkan penghasilan yang cukup untuk hidup kita dan keluarga kita. Kita bisa pergi ke mana saja kita mau, karena kita tidak lagi bekerja untuk uang, melainkan uang yang bekerja untuk kita. Kita akan merasa aman, tidak khawatir atau was-was kekurangan uang. Benarkah demikian?

Untuk beberapa kasus, mungkin ya. Tapi kebanyakan orang, setelah memiliki banyak uang biasanya berubah menjadi tambah haus. Ini terjadi karena keinginan-keinginan mereka terus bertambah. Mobil baru, rumah baru, atau bahkan “PIL atau WIL” pun harus baru juga. Ini membuat mereka selalu kekurangan uang, dan selalu merasa kehausan. Maka tak heran kalau semakin hari kasus korupsi semakin menjadi-jadi di negeri ini.

Uang, jika dikumpulkan dengan cara-cara yang baik, tentu merupakan berkah. Tapi jika kita mengumpulkan uang dengan menghalalkan segala cara, maka selain membuat dosa, kehausan berlebihan akan uang juga bisa membawa petaka. Pada kasus korupsi misalnya. Walaupun kita tidak tertangkap, kita tak akan pernah puas dengan uang yang kita miliki. Demikian juga dengan menipu, uang yang kita miliki akan selalu dibayangi oleh kerugian yang dialami oleh orang yang kita tipu. Kita tak akan pernah merasa berkecupukan dengan uang yang diperoleh dengan cara ini.

Bagaimana menghindari kehausan berlebihan akan uang?  Segera minum air tawar, ketika merasa sangat haus karena minum air laut. Maksudnya? Segera kembali ke tujuan hidup kita semula. Uang bukan tujuan hidup kita. Uang hanyalah sarana yang akan membuat perjalanan mencapai tujuan hidup kita lebih menyenangkan. Selamat berjuang dalam lautan pengumpulan uang, namun jangan sampai tenggelam karena minum berlebihan…..

Memaafkan, Kenapa Tidak?

Kadang kala, karena pernah dikecewakan atau disakiti, kita menjadi sangat benci kepada seseorang. Tak peduli siapa orang itu. Bisa saudara, teman, istri, suami, mantan pacar, orang tua atau bahkan anak sendiri bisa membuat kita benci setengah mati. Tidak salah memang, karena benci adalah manusiawi. Tapi, apakah perasaan benci ini ada untungnya untuk kita?

Kebencian, dalam semua bentuknya tidak pernah membawa keuntungan. Yang dibawanya hanyalah kerugian yang sebenarnya tidak perlu. Kerugian yang pasti adalah tersitanya energi dan pikiran kita untuk ‘memelihara’ perasaan benci tersebut. Kebencian adalah ibarat tanaman yang tumbuh di dalam pot. Jika kita rajin menyiram dan memupuknya, ia akan cepat menjadi besar dan subur.

Energi yang kita gunakan untuk memupuk dan menyiram kebencian kita adalah energi negatif. Jika kita terus menggunakan energi ini, darah kita akan segera menjadi kotor. Pada gilirannya, semua organ tubuh kita akan mengalami gangguan dan mulai menimbulkan penyakit yang walau pada awalnya tidak kita sadari dan tidak kelihatan dari luar. Yang paling cepat terserang adalah organ ginjal dan hati kita, karena mereka bekerja keras menyaring atau menetralisir darah kotor kita menjadi bersih kembali.

Perasaan benci juga membuat kita sulit tidur serta tidak enak makan. Dua hal ini juga akan segera menyebabkan gangguan kesehatan kepada kita. Kurang tidur menyebabkan konsentrasi terganggu, kelelahan, dan stress; sedangkan tidak enak makan akan menyebabkan penyakit maag, karena lambung kita lebih sering kosong. Kita lebih baik mencegah semua penyakit-penyakit itu sebelum sempat menyerang kita. Bunuh raksasa selagi ia masih kecil.

Lantas, bagaimana menghilangkan rasa benci itu? Kembali ke tanaman dalam pot tadi. Jika kita tidak memupuk dan tidak menyiramnya, dalam waktu singkat pohon dalam pot itu akan layu dan mati dengan sendirinya. Maka, setiap perasaan benci itu timbul, segera ingatkan pikiran kita bahwa ia tidak berguna, dan tak usah disiram serta dipupuk. Jika mungkin, cabut segera dan buang jauh-jauh bagai rumput liar yang mengganggu tanaman utama kita.

Mudah diucapkan, bukan? Ya. Tapi melaksanakannya sangatlah sulit apalagi kalau kita sudah terlanjur terbakar oleh api kebencian kita. Kita memerlukan latihan yang teratur serta waktu yang lama untuk membuang kebencian itu dari pikiran kita. Salah satu yang bisa kita lakukan adalah ‘belajar memaafkan.’ Bagaimana caranya?

Pertama, mulailah berimajinasi. Bayangkan kalau kita adalah orang yang kita benci itu. Kalau kita menjadi dia, apakah kita juga melakukan hal yang sama dengan yang ia lakukan kepada kita. Kalau jawabannya ya, maka kita akan tahu mengapa ia melakukan hal itu kepada kita. Banyak hal yang menyebabkan orang lain berlaku tidak baik kepada kita. Beberapa diantaranya disebabkan oleh kita sendiri, kesombongan kita, ucapan-ucapan kita, atau tingkah laku kita lainnya.

Kedua, sadari bahwa apa yang terjadi pada kita adalah hal yang memang harus terjadi pada kita saat itu. Kita tak bisa menyalahkan orang lain atas apa yang kita alami. Alam memang telah mengatur hal-hal yang harus terjadi pada kita pada saatnya yang tepat. Kita harus bisa menerimanya, tanpa harus menyalahkan orang lain, maupun diri kita sendiri.

Ketiga, coba ambil sisi baik dari apa yang terjadi pada kita yang menurut kita disebabkan oleh orang yang kita benci itu. Misalnya kita selalu dimarahi oleh ibu tiri kita. Sisi baiknya adalah kita akan menjadi lebih dewasa dan lebih bisa mandiri. Kalau kita diputusin oleh pacar kita, sisi baiknya mungkin agar kita bisa punya pengalaman dengan orang lain selain dirinya, yang mungkin saja lebih baik dari dia.

Keempat, kita harus menyadari bahwa kita tidak bisa mengubah pikiran orang lain agar sama dengan pikiran kita, walaupun orang lain itu adalah anak kita sendiri misalnya. Setiap manusia membawa pikirannya masing-masing. Memaksakan pikiran kita agar diikuti oleh orang lain, hanya akan membuat kita kecewa dan benci pada akhirnya.

Kelima, mulai doakan orang yang kita benci itu agar mendapatkan keselamatan dan hidup yang lebih baik. Doakan pula agar ia menyadari kekeliruannya dan agar Tuhan memaafkan kesalahannya.

Bagaimana kita bisa tahu kalau kita sudah berhasil memaafkan secara tulus dan sepenuh hati? Kita bisa mengujinya dalam hati kita. Jika hati kita sudah terasa damai, dan perut kita terasa lega, maka dapat dipastikan kita telah berhasil memaafkan orang yang kita benci itu. Jika ia mulai tumbuh lagi, segera lakukan kembali langkah-langkah di atas, dan usir perasaan benci secepatnya dari pikiran dan perasaan kita. Ingatlah selalu bahwa “memaafkan adalah memang obat yang paling mujarab.”

Sayur Favoritku

Ada beberapa menu sayur tradisional yang aku sukai :

Sayur daun kelor :

Sayur ini biasanya dibuat nenek dengan memetik dau kelor dari pohon di belakang dapur. Setelah tulang daun disisihkan, kelor direbus dengan air yang tidak terlalu banyak. Setelah mendidih, dimasukkan bumbu yang telah dihaluskan, terdiri dari bawang merah, bawang putih, cabe, kunir, kencur, dan kelapa. Biarkan mendidih sekali lagi, dan sayur daun kelor siap dihidangkan.

Daun talas :

Daun talas diambil nenek dari kebun di belakang rumah. Cara membuatnya kurang lebih sama dengan sayur daun kelor. Agar bervariasi, biasanya nenek menambahkan sedikit kacang panjang, pelepah talas, dan juga daun kacang panjang. Selain mengambil dari kebun di belakang rumah, nenek terkadang mengambil daun talas dari tepian parit di sawah seberang sungai. Daun talas ini biasanya disebut candung, dan rasanya menurutku jauh lebih enak dari daun talas yang diambil di belakang rumah.

Daun paku atau pakis :

Ini adalah sayur favoritku juga. Nenek biasanya mengambil pucuk pakis di tepian sungai Campuan, sekitar 1 kilometer dari rumahku. Cara memasaknya adalah dengan tumisan bawang merah, bawang putih, dan cabai.

Belega :

Belega adalah sejenis mentimun yang tumbuh di belakang rumah dan merambat di pohon dekat pagar. Buahnya yang muda sangat enak dibuat sayur dengan cara ditumis. Sekarang sedikit susah mencari belega. Kalau aku lagi pingin, aku suruh istriku menggantinya dengan mentimun saja.

Jamur :

Waktu aku kecil, masih banyak jenis jamur atau “oong” yang tumbuh di tegalan belakang rumahku. Ada oong padang, oong jagung, oong gajih, oong kuping, oong kunyit, dan terkadang oong ngihngihan yang biasanya tumbuh di bekas rumah laron. Oong ngihngihan inilah yang menurutku paling enak, selain oong somi atau jamur merang. Selain dibuat sayur, oong juga enak dibuat pepes dan nenek sering membuatnya kalau jamur yang didapat hanya satu atau dua saja.

Daun ketela rambat :

Daun ketela rambat yang masih muda juga enak dibuat sayur. Caranya dengan merebusnya, lalau diisi bumbu kelapa panggang yang diparut dicampur tumisan bawang merah, bawang putih dan cabai.

Terdampar di Dunia Perhotelan

Aku memulai karirku di dunia perhotelan tanpa aku rencanakan sebelumnya. Waktu itu aku gagal lulus Sipenmaru di FKIP Universitas Udayana. Aku tak bisa percaya kalau nama dan nomor ujianku tidak ada di deretan nama-nama peserta yang lulus itu. Aku bolak balik beberapa kali koran Bali Post yang sedang aku pegang, tapi nomorku tidak juga nongol. Ini adalah kali pertama dalam hidupku, aku tidak bisa lulus tes atau ujian.

Setelah aku pastikan bahwa aku memang benar-benar gagal, aku mulai membaca-baca artikel lain dan mataku tertuju pada sebuah kotak iklan dengan bunyi sebagai berikut : Vocational Training 6 bulan langsung kerja. Peminat bisa datang langsung ke Hotel Dhyana Pura, Seminyak, tanggalnya aku lupa, tapi kalau tidak salah, satu atau dua hari setelah tanggal koran Bali Post yang sedang aku baca itu. Wah, ini peluang bagus pikirku.

Aku minta Kade temanku untuk mengantarku ke Seminyak, karena waktu itu tidak ada kendaraan umum ke sana, dan aku tidak atau belum punya motor. Satu-satunya yang ada padaku adalah sepeda gayung pinjaman dari temanku Made S (almarhum), yang aku gunakan sejak aku praktek mengajar di SDN-1 Sumerta. Hari pertama berhasil aku lewati dengan sukses. Waktu itu aku langsung dites wawancara Bahasa Inggris oleh Mr Feisol dari Malaysia, pemilik hotel Kulkul (sekarang Alam Kulkul), dan aku bisa jawab sebagian besar pertanyaannya seputar siapa aku, mengapa ingin ikut tes, dan sebagainya. Maklum, aku sudah belajar Bahasa Inggris beberapa lama dari Radio Australia. Esok harinya, tes dilanjutkan dengan tes tertulis Bahasa Inggris juga, dan aku juga bisa menjawabnya dengan baik. Akhirnya aku diterima sebagai salah seorang peserta Voctra (Vocational Training) dengan jaminan kerja, menyisihkan sekitar seratusan lebih pelamar lainnya.

Aku mulai “kuliahku” sebagai mahasiswa Voctra PPLP Dhyana Pura jurusan Housekeeping dengan membayar Rp 405.000. Jumlah yang cukup besar karena orang tuaku harus menggadaikan tanah sawah warisan di kampungku. Untuk menghemat biaya, aku kos di Seminyak satu kamar bertiga dengan sewa kalau tidak salah Rp 15.000 per orang per bulan.

Kujalani kuliahku dengan penuh semangat. Tiap hari aku belajar dan belajar, berlatih menjadi pegawai hotel bagian housekeeping atau pembersih kamar. Maklum, dunia perhotelan betul-betul asing bagiku. Dan aku ada di sini karena ‘kecelakaan’. Selain housekeeping, aku juga mendapat pelajaran Bahasa Inggris, sedikit pengetahuan kantor depan atau Front Office, serta Laundry dan Binatu. Semua pelajaran itu tidak terlalu sulit bagiku. Yang sedikit masalah mungkin hanya saat aku belajar “making bed”, karena aku harus mengangkat kasur atau matress yang lumayan berat, terutama yang double bed.

Singkat cerita, setelah belajar selama sekitar 2 bulan, tibalah waktunya untuk mulai training di hotel. Sebagian besar temanku sudah mendapat alokasi training di hotel Sanur Beach. Bahkan saat mereka sudah mulai training, aku masih belum mendapat jadwal. Setelah ditunggu-tunggu, akhirnya aku mendapat tempat training di Hotel Bali Mandira di Jalan Padma Legian. Yang sedikit berbeda, aku tidak training di bagian housekeeping seperti teman-temanku, melainkan di bagian kantor depan atau Front Office. Aku sedikit gembira karena mendapat training di bagian ‘bergengsi’, sedang teman-temanku yang jumlahnya sekitar 30 orang, semuanya training di bagian housekeeping. Ada yang membuatku sedikit khawatir, yaitu aku hanya sendiri training di sana, sedang teman-temanku beberapa orang di satu hotel. Tapi aku jalani saja.

Setelah hampir sebulan, aku memutuskan berhenti training di hotel Bali Mandira. Aku datangi Pak Putra, salah seorang direktur di PPLP Dhyana Pura, dan Beliau memindahkan trainingku ke Hotel Kulkul, di bagian Bel Boy. Saat hotel Kulkul mulai buka, posisiku berubah menjadi kasir kantor depan. Dari sinilah aku mulai karir hotelku, yang akan aku ceritakan lebih detail pada halaman-halaman berikutnya.