Carakita.Com in January 2007

Hari ini, saya senang sekali karena tanpa sengaja ketemu arsip carakita.com pada saat awal-awal dilaunching di akhir tahun 2006 – awal 2007. Saat itu saya belum punya internet di rumah. Untuk meng-upload file, saya selalu datang ke warnet. Salah satu warnet yang sering saya kunjungi adalah Wesia Net yang terletak di Jalan Raya Dalung Permai. Terima kasih untuk Wesia Net, karena sudah membantu saya pada waktu itu.

Kembali ke arsip carakita.com. Setelah saya amati, saya tidak percaya bagaimana sederhananya tampilan carakita.com pada saat itu. Namun begitu, ia dapat bekerja dengan sangat baik, mendapatkan pendaftar sangat banyak, dan mampu menutup pengeluaran keluarga saya, dan sekaligus melunasi semua utang saya yang jumlahnya sekitar 175 juta pada waktu itu. Sungguh sebuah keajaiban bagi saya.

Berikut adalah link arsip carakita.com : https://web.archive.org/web/20070104022902

Sampah Plastik

Saya sangat mencintai hutan, sungai dan laut. Saya juga sangat suka makan ikan dari sungai dan laut. Saya tidak ingin hutan, sungai dan laut menjadi kotor karena sampah, terutama sampah plastik.

Satu hal kecil yang bisa saya dan keluarga saya lakukan adalah :

1. Mengumpulkan sampah plastik dan kertas ke dalam tas plastik, kemudian membakarnya kalau tas plastik sudah penuh. Satu tas plastik besar, biasanya cukup untuk menampung sampah plastik keluarga kami selama satu sampai dua minggu.

2. Sampah daun dan sayuran kami kumpulkan dan cincang kecil-kecil, kemudian ditaruh di bawah pohon mangga, pisang dan lainnya agar bisa menjadi penyubur tanah.

3. Sisa-sisa nasi, ikan, roti, dan makanan basah lainnya, kami sebarkan di kebun, agar bisa dimakan oleh ayam, kucing, kadal, semut merah, dan mahluk kecil lainnya.

4. Botol-botol minuman yang agak besar, can, gelas, kotak makanan, dan sejenisnya, kami kumpulkan untuk diberikan kepada pemulung yang sering lewat depan rumah kami.

Kami sudah melakukan hal kecil ini sejak 2 tahun lalu. Awalnya memang terasa berat, terutama untuk menyadarkan istri dan anak-anak saya. Tapi setelah agak lama mencoba, termasuk dengan marah-marah hampir setiap hari, mereka akhirnya mau mengikutinya.

Semoga dengan langkah kecil ini, kami bisa membantu menciptakan hutan, sungai dan laut yang bersih tanpa sampah, terutama sampah plastik ……

Disiplin, Kunci Belajar Bahasa Inggris

Seorang murid dewasa datang menemui saya sore itu. Namanya Duraprana, 26 tahun belum menikah. Saya biasa memanggilnya Mas Dura. Ia menyatakan keinginannya untuk bekerja di Australia setelah siang harinya sempat mengunjungi sebuah kantor agen tenaga kerja yang katanya sering mengirim tenaga kerja ke luar negeri. Saya menanyakan bagaimana perkembangan Bahasa Inggrisnya saat ini, karena untuk bisa bekerja di Australia tentu diperlukan kelancaran berbahasa Inggris.

“Nah itulah masalahya, Pak, ”katanya. “Saat ini Bahasa Inggris saya boleh dibilang masih jauh dari lancar.”

“Kenapa begitu? Kan ikut lesnya sudah lumayan lama?”

“Ya, Pak, saya sangat jarang bisa datang untuk belajar di EC. Teman-teman seangkatan saya rata-rata sudah lancar dan bahkan banyak yang sudah berhenti les dan mendapat pekerjaan yang bagus.”

“Kenapa Mas Dura tidak bisa datang les?”

“Sepulang kerja, saya seringan merasa lelah. Kadang ada teman yang mengajak saya jalan-jalan, makan bersama, atau main bulu tangkis.”

“Kan jadwalnya bisa disesuaikan. Atur saja dengan CS kita.”

“Sudah sering Pak saya tukar-tukar jadwal, tapi tetap tidak bisa datang juga; sampai malu saya sama Miss-nya..” katanya sambil menoleh ke meja CS.

Saya menarik nafas sebentar, lalu menutup pintu kantor saya, menurunkan temperatur AC dan menyalakan lampu ruangan.

“Begini Dura, “saya mulai menguliahinya, “program kursus di EC itu disusun untuk bisa dikuasai selama dua bulan. Jika mengikuti dengan baik, banyak peserta yang sudah bisa menguasainya bahkan dalam empat atau lima pertemuan saja. Metode EC sudah diujikan bertahun-tahun dalam program kursus online carakita.com dan mendapat apresiasi yang begitu besar dari para peserta dari seluruh Indonesia.”

“Ya, saya tahu Pak. Teman-teman seangkatan saya buktinya. Mereka bisa menguasai Bahasa Inggris dengan sangat cepat.”

“Kenapa Mas Dura tidak bisa seperti teman-teman itu?”

“Untuk itulah saya datang menemui Bapak. Saya ingin minta nasehat Bapak, bagaimana agar saya juga bisa seperti teman-teman saya itu.”

“Ada tiga syarat utama agar bisa menguasai Bahasa Inggris dengan cepat di EC-english is easy, yaitu target yang jelas, keteraturan berlatih, dan kesinambungan.”

“Target yang jelas, artinya peserta telah menentukan kapan ia bisa menguasai Bahasa Inggris, dan bagaimana Bahasa Inggrisnya pada saat yang ditentukan itu.”

“Apakah Mas Dura sudah menentukan kapan harus bisa berbahasa Inggris?”

“Saya ingin bisa secepatnya Pak.”

“Nah, ini target yang belum jelas namanya. Mas Dura harus menentukan waktu yang spesifik, misalnya 1 bulan, 2 bulan, 3 bulan, 6 bulan, 1 tahun atau 2 tahun dari saat ini. Setelah itu, bayangkan apa yang akan Mas Dura lakukan setelah menguasai Bahasa Inggris pada saat yang ditentukan itu, kebahagiannya,  kebanggaannya, atau hal-hal indah lainnya. Misalnya Mas Dura akan menonton film berbahasa Inggris setiap hari, jalan-jalan ke pantai Kuta dan berbicara dengan para tamu bule dengan lancar, atau bekerja di Australia seperti yang Mas katakan tadi. Bayangkan hal-hal indah itu sejelas-jelasnya sehingga tampak sebagai sesuatu yang nyata.”

“Bisa Pak. Saya sekarang targetkan saya harus sudah lancar berbahasa Inggris 2 bulan dari sekarang.”

“Baiklah, tapi Mas harus membuat target itu menjadi lebih nyata dengan menuliskannya besar-besar lalu memasangnya di dinding kamar, di kantor atau di tempat yang paling sering Mas lihat. Sementara Mas bisa gunakan kertas ini. Tulis misalnya seperti ini: “Saya Dura, lancar berbahasa Inggris tanggal 10 Januari 2017.”

“Tidak ada kata “akan”nya Pak?”

“Tidak, karena kalau diisi kata “akan” maka tetap akan menjadi akan – akan saja, tidak pernah menjadi kenyataan.”

“Bagaimana kalau dilihat oleh teman saya, apa nggak malu Pak?”

“Tidak usah malu. Anggap saja ini sebagai komitment atau janji yang sungguh-sungguh. Teman-teman Mas akan menjadi orang-orang yang selalu mengingatkan Mas untuk tetap datang ke tempat kursus, walaupun saat lelah sepulang kerja.”

“Ya benar juga Pak…. hehe, ”kataya sambil nyengir.

“Nah, setelah target menjadi sangat jelas, lanjutkan yang kedua: keteraturan berlatih. Pastikan bahwa Mas datang ke EC untuk bisa berlatih secara teratur 2 kali seminggu, sekaligus juga untuk mengecek perkembangan penguasaan Bahasa Inggrisnya. Selain itu, Mas juga harus rajin berlatih di rumah setiap pagi dan sore. Saya anjurkan Mas membuat semacam buku harian; tulis satu paragraf di pagi hari dan satu paragraf di malam hari. Semuanya menggunakan Bahasa Inggris yang sudah Mas pelajari selama ini.”

“Oh gitu ya Pak?”

“Ya, saya dulu juga melakukannya seperti itu. Saya selalu menulis di pagi hari dan di malam hari, setiap hari. Dan ulisan-tulisan itu masih saya simpan sampai sekarang.”

“Ya Pak, saya pasti melakukannya.”

“Terakhir yang ketiga, pastikan bahwa Mas melakukan itu secara kontinyu selama 2 bulan dulu. Jangan sampai lupa atau sengaja tidak melakukannya dengan berbagai alasan.”

“OK Pak, saya akan belajar dengan sungguh-sungguh mulai hari ini.”

Dukuh Pulu

Waktu sekolah di SMPN 1 Selemadeg Timur (dulu SMPN Bantas), aku tinggal di Banjar Dukuh Pulu Kaja. Lokasinya sekitar 3 kilometer arah Selatan dari sekolahku. Aku tinggal di sana cukup lama, sekitar 2,5 tahun. Tuan rumahku adalah keluarga Pan Wira. Adalah Mbah Suandri, nenek jauhku yang membawa dan memperkenalkanku ke sana. Mereka tidak ada hubungan keluarga apalagi bersaudara. Hubungan mereka hanya sebatas teman, karena mereka pernah berobat dan tinggal opname bersama-sama di sebuah klinik kecil di desa Mambang beberapa tahun berselang. Mungkin karena mereka merasa senasib dan pernah saling bantu selama di klinik itu, mereka kemudian melanjutkan pertemanan mereka bahkan sampai saat ini.

Keluarga Pan Wira adalah keluarga petani sederhana. Walau tidak terbilang keluarga mampu secara materi, namun menurut penilainku, hidup mereka waktu itu cukup bahagia dan mampu memenuhi hampir semua kebutuhan mereka. Pan Wira dan Men Wira adalah petani pekerja keras. Mereka pergi ke sawah pagi-pagi dan baru pulang setelah matahari terbenam. Disamping bekerja sebagai petani, Men Wira juga terkadang pergi ke pasar Kerambitan untuk menjual kayu bakar, pisang, janur, minyak goreng, kelapa, dan sayur mayur hasil kebun mereka. Ia pergi ke pasar dengan berjalan kaki, berangkat jam 5 pagi dan baru tiba kembali di rumah sekitar jam 12 siang.

Kakek dan Nenek Wira juga orang-orang pekerja. Nenek biasa bangun sekira jam 4.30 pagi untuk menyiapkan sarapan kami (termasuk aku tentunya) yang harus berangkat pagi-pagi. Sedangkan kakek setiap hari sibuk membuat peralatan masak dari bambu, seperti kukusan, bakul nasi, niru dan tempeh. Kakek juga terkadang membuat capil atau tutup kepala, semat untuk merajut janur, dan sapu lidi dari janur yang sudah tua. Semua yang dibuat kakek biasanya dijual ke pasar bersamaan dengan hasil kebun, atau terkadang juga ada pengepul yang mengambilnya ke rumah.

Disamping nasi sebagai makanan utama, nenek selalu menyajikan sayur, ikan, dan sambal sebagai lauk-pauk.  Aku sangat senang, karena aku sangat suka ikan, apalagi udang. Waktu itu ikan dan udang sangat mudah didapat. Kami biasa mencarinya di tukad atau sungai Lambuk atau di parit-parit yang mengairi sawah-sawah kami. Berbagai cara kami gunakan untuk menangkap ikan, seperti memasang bubu atau icir, memancing, menebar jala, ngenyat atau mengeringkan lubuk.

Selain ikan, nenek terkadang menghidangkan belut, kakul dan daging burung atau tupai. Belut didapat dengan memasang bubu, memancing, nyundih di malam hari, atau menggali tanah sawah. Kakul sangat mudah didapat, yaitu hanya dengan mengambilnya dari sawah di sore hari. Sedangkan burung dan tupai didapat dengan menembaknya menggunakan katapel. Pan Wira adalah seorang master dalam menggunakan katapel ini, sehingga hampir setiap hari ia membawa burung kukur, kokokan atau tupai sepulang dari sawah.

Sebagaimana umumnya keluarga petani di Bali, keluarga Pan Wira juga memelihara sapi dan babi. Sapi-sapi dipelihara di tanah ladang yang jaraknya sekitar satu kilometer dari rumah, sedangkan babi dibuatkan kandang di belakang dapur. Sepulang sekolah, aku biasanya ikut membantu memberi sapi makan dan membawanya minum serta mandi di sebuah kolam kecil di tengah ladang. Makanan sapi tidak sulit didapat, karena di ladang ada lahan rumput yang cukup luas. Jadi kami tinggal memindah-mindah lokasi tambatan sapi dari satu tempat ke tempat lainnya.

Karena jarak yang lumayan jauh, aku pergi ke sekolah naik sepeda ontel. Namun terkadang aku berjalan kaki karena sepeda sedang bermasalah, atau saat hujan turun sebelum aku berangkat. Disamping sebagai sarana angkutan, ternyata sepeda juga membantu menambah tinggi badanku. Sekedar diketahui, saat mulai sekolah di SMPN Bantas, aku termasuk anak dengan ukuran mini. Kurus, kecil dan belum bisa duduk di jok sepedaku. Namun setelah beberapa lama naik sepeda, kakiku sepertinya segera bertambah panjang dan aku segera bisa mengayuh sepedaku dari atas joknya.

Saat musim sawo dan mangga tiba, aku berusaha bangun lebih pagi. Tujuanku agar bisa mengambil sawo atau mangga yang jatuh di bawah pohonnya. Kalau lagi beruntung, aku bisa mengumpulkan beberapa butir sawo dan mangga untuk dikumpulkan dan dibawa pulang kampung pada hari Sabtu sebagai oleh-oleh untuk nenekku. Selain buah-buahan itu, aku juga mengumpulkan daun cengkeh kering serta buah jebug untuk campuran boreh dan nginangnya. Nenek biasanya sangat senang dengan oleh-oleh yang aku bawa, disamping karena kehadiranku memang sangat dinantikannya.

Dukuh Pulu menyisakan banyak kenangan untukku. Aku sangat bersyukur karena telah berkesempatan hidup di tengah orang-orang yang mencintaiku dengan tulus, walau mereka bukan saudara atau keluargaku. Kini kakek sudah tiada. Nenek juga hanya bisa terbaring lemah di tempat tidurnya. Aku hanya bisa berdoa, semoga kebaikan dan kemudahan selalu bersama mereka semua.

Apakah Agama Penting?

Karena merasa sudah sedikit akrab, beberapa waktu lalu saya bertanya kepada seorang tamu bule saya, yang kebetulan tinggal di Bali agak lama.

“Apa agama Anda, Mister?” tanya saya.

“Inovasi.”

“Agama inovasi?”

“Bukan. Inovasi kira-kira berarti  pengembangan pengetahuan dan kreativitas yang bisa membuat hidup dan kehidupan kita menjadi lebih baik daripada sebelumnya.” katanya.

“Oh, jadi kamu tidak mengikuti salah satu agama yang sudah ada seperti Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, atau yang lainnya?”

“Tidak.”

“Kenapa begitu?”

“Karena menurut saya, semua agama yang kamu sebutkan itu hanya berkutat pada dogma-dogma yang disampaikan secara turun temurun. Dogma yang menciptakan ketakutan dan kepatuhan absolut tanpa memberikan kebebasan berfikir kepada pemeluknya.”

“Agama hanya membuat kita merasa benar sendiri dan yang lain dianggap pasti salah; atau membuat kita selalu merasa lebih baik daripada pemeluk agama yang lain.”

“Agama hanya membuat kita semakin bodoh dan tidak mampu berinovasi, karena kita selalu terpaku dengan dalil-dalil atau aturan-aturan yang tertulis di kitab-kitab, atau terkadang didalilkan oleh orang-orang yang kita anggap sebagai para pemuka agama.”

“Semakin tinggi kepatuhan kita terhadap agama atau kepercayaan yang kita anut, maka semakin terpasunglah kebebasan berfikir kita, semakin sedikit pula peluang menumbuhkan inovasi-inovasi baru. Karena kebebasan berfikir kita terpasung, akan membuat kita semakin bodoh dan pada gilirannya akan membuat kita hidup dalam kemiskinan. Bagaimanapun cepat atau lambat, kebodohan akan menciptakan kemiskinan.”

“Kamu bisa perhatikan di mana saja, baik di Indonesia sendiri atau di negara lain, apabila agama dipraktekkan dengan absolut oleh para pemeluknya, maka mereka akan terjerat oleh kebodohan dan kemiskinan. Bahkan tidak jarang mereka berperang satu sama lain, karena sama-sama ngotot merasa paling benar sendiri.”

“Jadi dengan kata lain, agama tidak penting kan menurut kamu?” tanya saya.

“Bukan hanya tidak penting. Terkadang agama menjadi sumber petaka bagi manusia. Jadi kalau kita tidak mau bodoh dan miskin, atau bahkan berperang satu sama lain, menurut saya tidak usah beragama. Atau kalaupun beragama, tetaplah beragama secara kritis. Berikanlah ruang untuk kebebasan berfikir dan berinovasi. Selalu telaah dalam-dalam apa yang tertulis di kitab-kitab dan yang didalilkan oleh para pemuka agama, apakah sesuai dengan kata hati kita dan akan bisa membuat hidup dan kehidupan kita menjadi lebih baik daripada sebelumnya.”

Tanpa terasa, sore menjelang. Sang Mentari sudah hampir masuk ke peraduannya. Saya berkemas meninggalkan kursi pantai yang hampir dua jam saya duduki. Saya tidak mengatakan setuju atau tidak setuju dengan apa yang dikatakan oleh tamu saya. Saya biarkan pikiran saya terbang bebas bagai camar yang melayang di antara keindahan sore pantai Kuta…….

Kenapa Bapak Tidak Kaya?

Dalam perjalanan ke Batungsel, Pupuan hari Minggu malam lalu, aku berdebat dengan Yogi, anak tertuaku.

Yogi : “Kenapa Bapak tidak kaya?”

Saya : “Karena tidak pingin.”

Yogi : “Kenapa tidak pingin? Bukankah kalau kita kaya, kita bisa hidup enak? Bisa tour kemana dan kapan saja kita suka? Makan apa saja yang kita inginkan? Membeli mobil bagus? Tinggal di rumah mewah? Atau membantu orang agar mendapat banyak pahala?

Saya : “Ya, Bapak memang tidak terlalu menginginkan semua itu, dan sudah cukup nyaman dengan keadaan Bapak saat ini.”

Yogi : “Wah, Bapak memiliki mindset yang salah tentang kekayaan. Dalam buku-buku motivasi yang Yogi baca, semua mengulas tentang kesalahan pola pikir kita tentang kekayaan.”

Saya : “Bapak sudah baca hampir sebagian besar buku-buku itu.”

Yogi : ”Terus, kenapa Bapak tidak menerapkannya?”

Saya : “Bapak memiliki konsep yang berbeda tentang hidup dan kekayaan.”

Yogi : “Bedanya bagaimana?”

Saya : “Penjelasannya panjang, dan belum cocok dijelaskan untuk anak seumuran kamu.”

Yogi : “Jadi?”

Saya : “Sementara hiduplah sewajarnya seperti teman-temanmu. Belajar sebaik-baiknya dan gantungkan cita-citamu setinggi-tingginya. Jika saatnya tiba, kamu akan menemukan sendiri penjelasannya.  

Pemborong, Sebuah Kesalahan Memilih Profesi

Di sebuah sore di awal 2004, saya mendapat telpon dari seseorang yang ingin membangun rumah di daerah Kepaon, Denpasar Selatan. Ia mendapatkan nomor telpon saya melalui iklan yang saya pasang di koran Denpost. Kami janjian bertemu. Saya mengarahkan agar kami bisa bertemu di sekitar Denpasar, namun orang itu meminta agar bisa bertemu di rumah saya. Mungkin tujuannya untuk mengetahui kredibilitas saya, takut kalau-kalau saya penipu, hehe….

Pada waktu yang ditentukan, orang itu berhasil tiba di depan gang rumah saya setelah bertanya sana-sini, karena rumah saya memang berlokasi di sebuah gang kecil yang waktu itu masih ditumbuhi beberapa pohon besar di kanan kirinya. Ternyata ia tidak datang sendiri. Ia mengajak temannya yang seorang bule. Saya sedikit kebingungan, karena di rumah saya masih berantakan. Belum ada tempat duduk, dan lantai keramiknya banyak yang terkelupas, belum diflafond, dan tanpa pagar pula. Setelah berpikir sejenak, saya memutuskan untuk mengajak orang itu dan temannya masuk rumah pertama di gang saya yang saat itu kebetulan gerbangnya terbuka. Kami bertiga duduk di teras yang berkeramik, setelah permisi dengan berbisik kepada sang pemilik rumah.

Orang itu berasal dari Jawa Barat dan bekerja di Airport Ngurah Rai. Ia memiliki tanah kavling seluas satu are di Kepaon, dan teman bulenya yang belakangan saya tahu berasal dari Australia akan membuatkannya sebuah rumah di tanah itu. Mereka berniat membangun rumah type 36 tapi dengan beberapa perubahan desain serta menggunakan bahan dengan kualitas lebih bagus agar sedikit sesuai dengan standar bule itu, yang jika ke Bali nantinya akan tinggal di sana. Setelah berbincang agak lama, saya memberikan penawaran dan mereka ingin mempelajarinya terlebih dahulu. Kami bersepakat untuk bertemu tiga hari setelahnya.

Senja hari tiba. Matahari mulai redup dan menghilang perlahan di balik cakrawala. Deru angin muson Barat terdengar jelas dari cabang dan ranting lamtoro yang tumbuh tinggi mengitari rumah saya. Saya menutup pintu dan jendela yang tak bertirai. Titik air mulai menetes dari sela-sela genteng yang retak. Saya mengambil ember dan menaruhnya di lantai untuk menangkap tetesannya yang semakin lama sepertinya semakin deras. Istri saya menyiapkan makan malam seadanya, dan kami makan bersama.

Malam semakin larut. Tanpa sadar jarum jam sudah menunjuk angka 12. Saya berpindah duduk, karena tetesan air mulai terasa membasah di rambut saya. Saya masuk kamar dan memandangi istri dan kedua anak saya yang sudah tertidur pulas. Saya tercenung. Baru kali ini saya benar-benar sadar bahwa hidup saya dan keluarga sudah benar-benar parah. Saya baru menyesal mengapa saya meninggalkan pekerjaan hotel saya, yang seharusnya bisa membuat saya hidup mapan seperti beberapa teman saya. Saya telah membawa dan membiarkan keluarga saya terseret dalam pusaran utang yang tak kelihatan ujung dan pangkalnya.

Tiba-tiba saya teringat buku usang yang saya dapatkan di Legian tempo hari. Saya mengeluarkannya dari almari buku dan mencoba membacanya dengan penerangan sinar lilin, karena listrik sudah padam sejak tadi sore. Dan di tengah kalutnya pikiran saya, mata saya tertuju pada sebuah baris yang selama ini mungkin selalu terlewatkan. “Apakah Anda menyukai pekerjaan Anda?” demikian kira-kira terjemahannya dalam Bahasa Indonesia.

Saya membacanya berulang-ulang seakan tak percaya. Ya, apakah saya menyukai pekerjaan saya? Apakah saya menyukai pekerjaan saya saat ini sebagai pemborong bangunan? Terdengar lolongan anjing di kejauhan. Saya mengambil selimut dan menutupi badan saya yang mulai terasa dingin. Apakah saya menyukai pekerjaan saya? Pertanyaan dari buku usang itu kembali menggema. Rupanya saya belum bisa menjawabnya dengan segera.

Saya melanjutkan membaca, dan akhirnya menemukan cara mengujinya. “Apakah Anda sering lupa waktu, jika sedang berada di tengah-tengah pekerjaan Anda? Apakah Anda sering sampai lupa makan karena keasyikan mengerjakan pekerjaan Anda? Jika jawaban Anda ya, maka Anda berada di jalur yang tepat,” demikian lanjutan kalimat itu, masih di paragraf yang sama. Saya mulai menanyai diri saya, dan sepertinya bisa menemukan jawabannya dengan cepat. Saya selalu merasa tidak nyaman ketika berada di proyek yang saya bangun. Apalagi saat beberapa tukang saya minta kas bon dan saya tidak memegang uang sepeserpun, saya ingin segera lari sejauhnya, hehe.…

Kokok ayam mulai terdengar dari pohon waru di depan rumah saya. Beberapa ayam tetangga memang tidur di sana. Entah mengapa tumben saya belum mengantuk, padahal sudah hampir jam 2 pagi. Deru angin sudah mulai berkurang dan hujan sepertinya sudah benar-benar reda, sementara listrik belum menyala juga. Saya melanjutkan membaca dan tak lupa mencatat di notes kecil yang selalu saya bawa ke mana-mana. “Sekarang bayangkan kalau Anda mempunyai uang sebanyaknya sehingga Anda bisa membeli apa saja yang Anda inginkan. Apakah Anda masih akan mengerjakan pekerjaan Anda yang saat ini?” demikian bunyi kalimat di paragraf selanjutnya.“ Jika ya, berarti Anda berada di jalur yang tepat.”

Saya menanyai diri saya lagi, dan tak perlu menunggu lama, saya segera jawab tidak. Saya senang melihat orang mendirikan bangunan dan merubah tanah kosong menjadi tempat tinggal yang indah dan nyaman, namun untuk menjadi pengusaha dan mendapatkan uang serta hidup dari usaha pemborong bangunan tidak pernah sekalipun menjadi impian saya.

Fajar mulai menyingsing. Saya meniup lilin dan merebahkan diri di atas tikar pandan yang saya duduki. Saya mencoba memejamkan mata, namun pikiran saya masih melayang. Saya mulai menimang-nimang pekerjaan apa yang akan memberikan jawaban ya atas ketiga pertanyaan di atas. Tiba-tiba saya teringat teman bule orang yang datang kemarin siang.

Bersambung……

Gold Quest, dan Mimpi Yang Tertunda

Awal tahun 2002, saya beralih profesi menjadi pemborong bangunan dan meninggalkan jabatan saya sebagai Front Office Manager di hotel The Chedi, Ubud (sekarang Alila Ubud). Harapan saya saat itu adalah agar bisa mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya dan secepat-cepatnya dan segera bisa bebas finansial.

Beberapa proyek rumah berhasil saya dapatkan dari memasang iklan di koran Bali Post dan Denpost. Saya mengajak beberapa saudara dari kampung untuk mengerjakan proyek-proyek itu. Beberapa rumah bisa selesai dengan cepat , namun beberapa ada yang molor sampai beberapa bulan. Saya tetap memasang iklan agar mendapatkan lebih banyak order. Pernah sekali waktu saya mengerjakan lima unit rumah sekaligus di lokasi berbeda dengan pemilik yang berbeda pula. Teman-teman hotel saya terheran-heran, karena melihat saya bisa menjalani profesi baru saya yang sebenarnya sangat jauh dari dunia perhotelan yang saya geluti sebelumnya.

Masalah mulai muncul, ketika saya mengambil beberapa proyek yang agak besar dengan harapan untung yang lebih besar. Karena kurang pengalaman, beberapa proyek molor jauh dari rencana, dan pemilik tidak mau menyelesaikan pembayaran sesuai terminnya. Saya harus menalangi pembayaran bahan dan tukang-tukang saya dengan meminjam uang di BPD Bali. Situasi semakin memburuk, karena beberapa pekerjaan tidak sesuai spesifikasi dan pemilik meminta pembongkaran dan pemasangan ulang.

Saya menambah frekuensi pemasangan iklan untuk mendapatkan proyek baru. Saya berhasil mendapatkannya, namun harganya sangat rendah. Saya menggunakan uang mukanya yang sekitar sepuluh sampai dua puluh persen dari nilai bangunan untuk menalangi sementara tagihan-tagihan di toko bangunan dan membayar tukang-tukang yang mengancam mogok. Uang muka ini jauh dari cukup, karena beberapa proyek sebelumnya akhirnya benar-benar mangkrak, dan pemiliknya mencari pemborong lain dengan tidak membayar sisa tagihan saya.

Saya benar-benar terpuruk. Utang saya di toko-toko bangunan semakin menumpuk. Setiap hari ada saja yang datang ke rumah saya untuk menanyakan pembayaran. Saya berusaha menemui mereka dan menjelaskan keadaan saya. Beberapa diantara mereka mau mengerti, namun beberapa mengancam akan membongkar rumah yang saya bangun atau melaporkan saya ke polisi. Sementara itu petugas dari Bank BPD Bali hampir setiap hari menelpon meminta saya mencicil pinjaman atau kalau bisa bunganya saja. Saya bahkan sudah diblacklist di Bank Indonesia karena tiga kali cek dan BG yang saya keluarkan tidak bisa dicairkan tepat waktu.

Di tengah keterpurukan saya, teman saya yang sudah lebih dulu berhenti dari hotel dan mulai menekuni bisnis MLM Gold Quest mengajak saya bergabung. Saya tertarik, karena kelihatannya sistemnya sangat mudah dan akan tetap bisa menghasilkan meskipun tidak dikerjakan lagi, bahkan bisa diwariskan pula. Saya mengambil dua unit menggunakan uang muka dari proyek baru saya yang lainnya..hehe, ini harapan saya agar nantinya bisa diwariskan kepada kedua anak saya. Saya sangat bersemangat mengerjakannya di sela-sela keterpurukan bisnis pemborong saya. Saya berpikir kalau utang-utang saya akan segera lunas dari aliran komisi yang dibayarkan downline saya. Bahkan saya berkhayal tidak lama lagi akan segera mencapai cita-cita saya untuk bebas finansial.

Saya berusaha mendekati beberapa teman saya dan mengajaknya bergabung. Namun dibalik dugaan saya, semua menyatakan sudah tahu bisnis ini dan ingin melihat saya sukses terlebih dahulu, baru mau bergabung. Ternyata saya yang kurang gaul. Gold Quest memang sudah hadir di Bali sekitar dua tahun sebelum saya bergabung. Beberapa orang mungkin sudah pernah menawarkannya kepada saya, tapi saya tidak menanggapinya. Setelah menjalaninya selama sekitar enam bulan, tidak satupun orang yang bisa saya buat bergabung menjadi downline saya. Saya mulai putus asa, ditambah keadaan bisnis pemborong saya yang bagai kerakap tumbuh di batu, hidup segan mati tak mau. Saya mengalami dua kegagalan bisnis sekaligus.

Satu pagi di awal Oktober 2003, teman yang dulu mengajak saya bergabung di bisnis MLM Gold Quest  menelpon. Akhir bulan ini akan diadakan “Life Changing Boot Camp” di Bedugul. Ia mengajak saya bergabung dengan membayar sebesar Rp 1,5 juta, tapi akan dipinjami dulu oleh salah seorang leader Gold Quest sebesar Rp 1 juta. Jadi saya tinggal mengusahakan Rp 500 ribu saja. Saya benar-benar tidak punya uang waktu itu, namun saya begitu ingin mengikuti boot camp ini karena sesuai namanya “Life Changing” dan hidup saya memang pantas di”change”, hehe…

Saya bicara kepada istri saya untuk kalau mungkin meminta atau meminjam uang darinya. Ia marah besar dan mengatakan saya belum kapok juga. Saya akhirnya memutuskan untuk menarik tabungan pendidikan yang kami alokasikan untuk anak kami, karena berpikir bootcamp ini sangatlah penting. Transportasi dan lainnya saya bisa nebeng dengan teman saya.

Singkat kata, bootcamp dimulai. Hal terpenting yang saya dapatkan adalah “jika kita berpikir bahwa kita bisa mendapatkan sesuatu, maka kita benar-benar akan mendapatkannya.” Waktu itu satu per satu peserta disuruh maju ke panggung, meneriakkan sekeras mungkin apa yang ingin mereka raih dalam 5 tahun dari saat itu. “Saya bebas utangngngng……..” teriak saya sekerasnya sampai berguling-guling di atas panggung. Saya mengulangi teriakan keras itu sampai lebih dari sepuluh kali. Sampai akhirnya, saya merasakan sesuatu bergerak dalam alam bawah sadar saya. Saya merasakan sinar terang mulai memancari pikiran saya. Dan saya yakinkan bahwa lima tahun setelah bootcamp itu, saya sudah terbebas dari masalah utang saya.

Setelah bootcamp selesai, saya melakukan aktivitas saya seperti biasa. Saya melanjutkan proyek renovasi sebuah villa di kawasan Legian. Meskipun utang saya masih menumpuk, saya memiliki keyakinan bahwa lima tahun lagi utang-utang itu akan lunas semuanya. Saya bisa yakin seyakin-yakinnya, karena karisma pembina bootcamp seakan menyihir diri saya menjadi pribadi baru yang penuh percaya diri, walaupun situasi sulit tampak nyata di depan mata. Bootcamp itu benar-benar sesuatu, pikir saya.

Seminggu berlalu, saya tetap menjalani hari-hari seperti biasa. Sampai pada suatu sore, seorang tukang saya memanggil saya dan menunjukkan tumpukan buku di lemari kaca di sebuah ruangan besar yang sudah ditumbuhi rumput-rumput liar dan beberapa tanaman merambat lainnya. Saya menemui pemilik villa, dan menanyakan mau diapakan buku-buku itu. “Dibuang saja”, katanya, “karena tamu yang mengontrak sudah pergi beberapa bulan dan tidak akan kembali lagi.” “Boleh saya yang ambil, Bu?” kata saya, karena saya memang pencinta buku dari sejak saya sekolah dulu. “Tentu saja, kalau Pak Wayan mau,”katanya. Wah ini rejeki nomplok, pikir saya.

Esok harinya, saya membawa karung untuk tempat buku-buku itu. Total ada tiga karung besar dan saya bawa satu per satu dengan motor saya. Saban malam, saya sortir buku-buku itu, dan menaruh yang paling menarik di kamar tidur saya. Dan akhirnya saya menemukan sebuah buku usang berbahasa Inggris, yang mana setelah saya baca, saya menemukan “Rahasia Memiliki Daya Tarik Uang”. Ini benar-benar mukjizat dari bootcamp, pikir saya.

Bersambung…

Ikatan Adat Bali, Untuk Siapa?

“Minggu depan apakah saya boleh minta ijin selama 2 hari, Pak?” kata Putu, seorang karyawan saya penuh harap. “Tetangga saya di kampung akan menyelenggarakan upacara Potong Gigi, dan puncak acaranya hari Rabu minggu depan. Saya ingin pulang kampung, karena saya terikat adat di kampung saya,” lanjutnya kemudian.

“Baiklah,” kata saya, “tapi gaji Anda harus dipotong selama 2 hari libur Anda itu.” “Ya pak, saya memilih gaji saya dipotong, daripada saya disisihkan dari komunitas adat di desa saya,” katanya dengan berat hati.

Saya sering bertanya dalam hati, untuk siapa sebenarnya ikatan banjar atau desa adat di Bali ini? Untuk siapa orang Bali harus bersusah-susah mempertahankan tradisi adatnya? Apakah untuk memuaskan para wisatawan yang berkunjung ke pulau Dewata ini? Apakah untuk kebanggaan sebagai orang Bali? Atau, apakah semata karena takut disisihkan dari komunitas banjar adat atau desa adat?

Saya melihat banyak orang Bali melakukan kegiatan adat dengan penuh keterpaksaan dan ewuh pakewuh. Terutama mereka yang menggantungkan hidup mereka dari bekerja harian, yang tidak akan dibayar jika mereka libur atau tidak bekerja. Mereka harus meninggalkan pekerjaan sekaligus penghasilan mereka, karena ada keluarga atau anggota banjar adat yang punya hajatan seperti upacara potong gigi, ngaben, menikah, dan lain sejenisnya. Seringkali mereka harus ada atau hadir di tempat upacara, walaupun tidak melakukan apa-apa di sana.

Sebagai konsekuensinya, banyak diantara mereka yang tidak bisa memenuhi kebutuhan minimal bulanan mereka. Tidak bisa membayar cicilan motor, TV, dan alat elektronik standar yang ingin mereka miliki. Tidak bisa menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah berkualitas. Tidak sempat menabung untuk masa depan, apalagi bisa berlibur ke luar negeri misalnya. Malah banyak diantara mereka yang akhirnya jatuh miskin dengan hutang yang meningkat dari waktu ke waktu, dan pada gilirannya harus merelakan tanah warisan mereka dijual untuk menutupi hutang-hutang mereka yang sudah menumpuk.

Saya pribadi sangat prihatin dengan keadaan ini. Saya sering membandingkan dengan teman-teman yang tidak kena ikatan adat (Bali) ini. Mereka seakan bebas menggunakan waktu mereka untuk berkonsentrasi dalam bekerja dan menghasilkan uang, menabung untuk masa depan, menyediakan pendidikan terbaik untuk anak-anak mereka, serta mengajak anak-anak mereka berlibur dan menambah wawasan ke luar negeri. Mereka tidak terlalu disibukkan dengan upacara-upacara yang terkadang datang beberapa kali dalam satu bulan.

Saya khawatir, jika keadaan ini berlanjut, orang Bali akan semakin tertinggal secara ekonomi dan juga pendidikan. Orang Bali akan mewariskan generasi yang tidak siap bersaing dalam kemajuan tekologi yang demikian pesat ini. Orang Bali hanya akan berkutat dengan tradisi yang mempersulit diri sendiri, memaksa teman dan saudara patuh dengan ikatan adat, dan menyisihkan mereka kalau berani melanggar.

Apa yang seharusnya dilakukan? Saya menginginkan ikatan adat yang ketat bisa dilonggarkan. Upacara-upacara keagamaan tetap dilaksanakan namun dengan penyederhanaan sampai tingkat maksimal, dan tidak mesti mewajibkan semua anggota adat untuk terlibat. Kalau mungkin upacara ngaben, potong gigi, nyambutin dilaksanakan secara massal atau kolektif dengan rentang waktu yang cukup lama, misalnya 10 tahun sekali. Ini akan memungkinkan kita sebagai orang Bali memiliki cukup waktu untuk berkonsentrasi bekerja dan meraih penghasilan yang cukup, dan pada gilirannya bisa menabung serta menyediakan pendidikan terbaik untuk anak-anak kita. Kita akan tetap bisa bersaing dengan teman-teman kita yang tidak kena ikatan adat, tanpa meninggalkan tradisi yang diwariskan oleh para Leluhur kita.

Ikatan adat Bali adalah untuk kita, bukan untuk siapa-siapa. Maka dari itu, kita harus membuatnya memudahkan hidup kita, bukan justru mempersulitnya…

Bali Tanpa Sawah

Apakah Anda pernah membayangkan Bali tanpa sawah? Saya sangat yakin tidak lama lagi, sawah-sawah akan benar-benar menghilang dari pulau Dewata ini. Apa sebabnya? Karena upaya mempertahankan keberadaannya memang nyaris tidak ada. Ini terlihat dari begitu mudahnya mendapatkan perijinan alih fungsi sawah-sawah produktif menjadi kompleks perumahan, villa dan hotel. Ini terjadi hampir merata di seluruh kabupaten di Bali.

Bagaimana jadinya jika Bali tanpa sawah? Secara umum memang tidak akan banyak pengaruhnya. Namun taksu Bali (baca : Hindu) akan segera menghilang seiring menghilangnya sawah-sawah itu. Ini karena karakter Bali tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan pertanian yang menempatkan sawah sebagai pilar utamanya. Sawah bagi orang Bali adalah Ibu yang memberi makan dan kehidupan.

Bagaimana cara mempertahankan sawah-sawah itu? Yang paling radikal adalah pemerintah membeli semua sawah yang ditawarkan untuk dijual, kemudian menjadikannya jalur hijau dengan fungsi sebagai sawah abadi. Uangnya dari mana? Bisa dari mana saja, APBD atau donatur dari orang yang peduli akan kelestarian alam Bali. Dan dengan cara ini, harga tanah sawah akan otomatis menurun drastis, karena tidak ada lagi yang berspekulasi untuk mendapatkan keuntungan jangka pendek dengan menawarkan sawah sebagai sarana investasi.

Terus, bagaimana dengan lahan perumahan, villa, dan hotel yang dibutuhkan masyarakat yang semakin bertambah populasinya? Yang paling mungkin adalah dengan mengijinkan bangunan vertikal dengan ketinggian tidak terbatas di daerah-daerah yang sudah ada bangunannya saat ini. Apakah hal ini tidak mengurangi kesucian Bali karena orang tinggal di tempat yang lebih tinggi daripada pura-pura atau sanggah-sanggah orang Bali? Menurut saya, kesucian ada di dalam hati.

Sekarang pilihannya ada 2, mengijinkan sawah-sawah itu menghilang atau menerima perkembangan jaman dengan membangun ke atas, bukan ke samping………