Dusunku Tempo Dulu

Aku terlahir di sebuah dusun kecil yang sederhana. Namanya adalah Dusun Nyampuan. Nama ini diambil dari pertemuan tiga sungai di ujung Timur dusunku. Sungai-sungai itu adalah Lambuk, Campuan, dan Yeh Ho. Nyampuan secara sederhana bisa berarti “campuran”, yaitu campuran ketiga sungai-sungai itu.

Tahun 1976-an, jalan depan rumahku adalah jalan tanah dengan got di kiri-kanannya. Jalan ini tidak rata, tapi cukup baik untuk dilewati pejalan kaki. Kalau naik sepeda, harus dipilih-pilih yang bisa dilalui. Beberapa rumah penduduk berjejer di pinggir jalan ini. Sebagian besar pagar depan rumah-rumah ini adalah pohon kembang sepatu, yang berbunga merah, sebagian besar tidak dipotong rapi. Beberapa ada yang berpagar dinding tanah liat beratap jerami, dengan gapura tanah rangka bambu beratap jerami pula.

Ada sebuah pohon bunut besar berdiri di pagar rumah seberang rumahku. Pohon bunut ini tingginya sekitar 40 meteran. Daun-daunnya lebat dengan cabang-cabang yang melebar menutupi jalan dan sanggah atau pura keluarga di bawahnya. Jika musimnya berbuah, banyak burung-burung berdatangan mencari makan. Burung-burung itu adalah jenis jalak seperti curik dan ……. Sambil makan, mereka biasanya bernyanyi dan bercengkrama.

Rumahku

Karena aku dulunya punya 2 orang kakek dan 2 orang nenek, maka rumahku sebenarnya untuk 2 keluarga. Tapi karena Nenek tidak punya anak, dan nenek kandungku hanya punya satu anak yaitu ibuku, maka rumah kami seperti menjadi satu rumah saja. Ada satu bangunan meten Bali beratap ilalang dengan 12 tiang, dan satu lagi meten model baru beratap genteng dengan 8 tiang. Kedua bangunan ini berdinding bata mentah berplester tanah, namun cukup kuat juga bertahan bertahun-tahun. Gedek bambu dipasang di bagian depan dan samping. Nenek dan aku tinggal di meten Bali yang dengan 12 tiang, sedang ibu dan Ayah, dan dua adik tiriku di meten satunya.

Di tengah-tengah berdiri Bale Bali kecil bertiang 6, atau biasa disebut bale mundak. Bale ini kadang digunakan sebagai tempat suka duka kami sebagai umat Hindu. Sehari-hari bangunan ini sebagai tempat tidur kakek dan nenek kandungku.

Ada 2 buah bangunan lumbung beratap ilalang, yang satu milik Nenek, dan yang lainnya milik ibuku dan anggota keluarga lainnya. Lumbung-lumbung ini tempat menyimpan padi kering setelah habis panen. Beberapa ayam yang kami pelihara juga tidur dan bertelur di sini. Jika ada telur mereka menetas, kami menaruh anak-anaknya di bagian bawah lumbung, dan kami tutup keranjang.

Karena terdiri dari 2 keluarga, kami punya 2 bangunan dapur. Satu untuk aku dan nenek, satu lagi untuk anggota keluarga yang lain. Kedua bangunan dapur ini sangat sederhana. Yang untuk aku dan nenek beratap ilalang, sedang yang satunya lagi beratap genteng. kami semua memasak dengan kayu bakar, jadi dapur kami hitam dan kotor penuh mangsi dan abu. Sebagian ayam-ayam kami juga tidur dan bertelur di bangunan dapur ini, selain di bangunan lumbung. Kami harus rajin membersihkannya agar tidak berbau dan tidak menjadi rumah bagi “gagad”, serangga kecil pembikin gatal, yang biasa hadir saat ayam mengeram.

Di Barat Laut rumah kami, berdiri Merajan atau sanggah keluarga tempat kami sembahyang. Bangunannya terbuat dari kayu tanpa ukiran beratap ilalang, dan bataran atau dudukannya dari tumpukan padas tanpa ukiran pula. Ada palinggih kemulan, rambut sedana, catu, saren dan taksu. Ada juga palinggih Tugu, baturan dan piasan yang belakangan karena beberapa pertimbangan, ketiganya dipindahkan ke bagian belakang rumah kami.

Di pagar sanggah atau erajan sebelah utara berdiri pohon mangga santen yang tinggi. Buahnya lebat dan manis. Nenek biasa naik mencarinya jika sudah matang. Ia menggunakan bambu panjang yang di ujungnya dipasang serok kecil anyaman bambu juga. Tujuannya agar buah mangga tidak jatuh dan pecah. Mangga-mangga ini biasanya dibawa nenek ke desa di kaki gunung untuk ditukar buah-buahan lain seperti manggis, duku, dan wani.

Di belakang rumahku juga tumbuh beberapa pohon bunut besar tempat burung-burung dan tupai bersarang. Ada juga pohon boni nasi, pohon asam, kelapa, dan aren. Pohon lainnya adalah waru, pulet, cenangga, bentawas dan piling. Tiga jenis bambu juga ada, yaitu bambu ampel, bambu tali, dan tamblang. Pohon-pohon dan bambu ini sangat berguna untuk menghadirkan kesejukan sepanjang waktu disamping sering digunakan untuk keperluan upacara agama Hindu.

Di sela-sela pepohonan ini, nenek biasanya menanam berbagai tanaman perdu berumur pendek seperti talas, ketela pohon, ketela rambat, biaung/kentang, sabrang, jahe, kunyit, bongkot, lengkuas, bangle, dan juga pisang. Di bagian pinggir, ditanam nanas dan pohon pandan. Daun pandan ini biasa digunakan untuk bahan membuat tikar. Pernah ada juga tanaman kapas dan sirsak.

Beberapa tanaman bunga juga tumbuh baik di pagar dan pekarangan rumahku. Ada 2 pohon kamboja merah, pohon bunga kemoning, kembang sepatu tentunya, karena sebagai pagar, pucuk rokok, kembang koning, dan belakangan ditanam bunga nusa indah serta bougenville. Nenek juga menanam bunga berumur pendek seperti gumitir, pacar, dan matahari.  Bunga-bunga ini sangat penting bagi keluargaku, karena bisa digunakan dalam pembuatan banten atau sarana upacara agama Hindu.

Balai Banjar

Terletak di tengah banjar, berdiri sebuah balai banjar yaitu ruang pertemuan untuk anggota banjar.  Balai banjar ini berupa bangunan kayu sederhana bertiang 10. Atapnya dari genteng dan lantainya bata merah persegi ukuran sekira 25 x 25 cm. Samping kiri kanan dan belakangnya berpagar kembang sepatu berbunga merah, sedang bagian depannya dibiarkan terbuka.

Di pekarangan tumbuh berbagai jenis rumput, yang terkadang terpotong rapi karena disabit warga untuk makanan sapi. Tidak ada bunga-bunga atau tanaman lainnya. Tiang bendera bambu hanya terpasang menjelang tujuh belas Agustus. Ada papan kecil tergantung di bagian depan, dengan tulisan “Banjar Nyampuan.”

Aku dan teman-teman sering atau bahkan hampir setiap hari bermain di balai banjar ini. Permainannya dari megala-gala, congklak, macan-macanan, sepak bola, atau maalih-alihan. Kami juga sering nyapung dan mencari belalang di halamannya. Beberapa ibu-ibu juga sering duduk-duduk sambil momong anak atau cucu mereka. Tidak ada yang tergesa-gesa, semua berjalan dengan santai dan apa adanya.

Ketika sore tiba, terkadang ada warga yang berjualan di balai banjar ini. Yang paling aku ingat adalah almarhum Men Lebek atau belakangan dikenal dengan Mbah Evi. Beliau biasa menjual jajanan Bali, pisang goreng, tipat cantok, permen, rokok, kopi, susu, dan terkadang tum babi. Ada juga kerupuk semprong, roti marie, sorbet, ronde, es campur dan juga terkadang es lilin. Aku sering membeli susu dan roti di sini sepulang munuh atau mencari pasir.

Adat dan Keagamaan

Sebagai sebuah banjar yang semua penduduknya beragama Hindu Bali, ada banyak pura di banjarku. Pura Sada terletak di ujung Utara atau hulu banjar. Kemudian ada Palinggih pempatan di lokasi Balai Banjar, hanya satu buah pelinggih sederhana dari bata merah menghadap ke Timur. Kemudian ada Bale Gong di sebuah rumah berlokasi di Tenggara Balai Banjar. Palinggih Pajenengan atau Kawitan keluarga kami terletak di ujung Selatan Banjar dan kami juga punya Sanggah Gede sekitar 50 meter di Barat Laut Pura Kawitan.

Odalan atau Hari Ulang Tahun di masing-masing pura dirayakan setiap 6 bulan secara sangat sederhana. Yang lumayan agak meriah adalah odalan di Pura Sada dan Bale Gong, dimana biasanya ada beberapa orang menjajakan dagangannya saat hari odalan tiba. Sedang di pura yang lainnya hanya persembahan banten sederhana yang hanya melibatkan ibu-ibu saja, tidak ada tetabuhan dan penjor besar di gapuranya.

Tajen atau tabuh rah biasanya digelar sehari atau dua hari setelah odalan di Pura Sada dan Bale Gong. Tajen ini biasanya sangat ramai oleh para bebotoh yang datang dari desa-desa sebelah, dan bahkan dari seberang sungai seperti Belumbang, Kerambitan dan Penarukan. Ada beragam permainan selain sabungan ayam, seperti kocokan dadu, bola adil, dan blok kyu. Dagangan juga ada, bahkan terkadang lebih banyak daripada saat odalan. Mereka menjual nasi, tipat cantok, kopi, dan sebagainya.

Ada 2 pura besar lagi tapi tidak berlokasi di banjarku. Mereka adalah Pura Puseh dan Pura Dalem. Odalan di 2 pura ini jauh lebih ramai dari beberapa pura yang kusebutkan sebelumnya. Ini karena penyungsung atau anggotanya dari beberapa banjar di desaku. Odalan di Pura Puseh yang jatuh sehari setelah hari Kuningan sangat kami nantikan. Di sini adalah kesempatan kami untuk memakai baju baru, yang biasanya sudah kami jahit jauh hari sebelumnya di tukang jahit satu-satunya di banjar kami. Ada banyak pedagang mainan, kokek-kokekan, kembang gula, dagang nasi, dan juga mainan kocok dadu, serta bola adil. Selain itu ada juga gong dari 2 banjar dan angklung, serta Jero Gede Teges yang sangat ingin kami lihat tapi takut kalau sudah dekat. Cerita tentang odalan ini akan aku tuliska lebih lengkap pada kesempatan lain.

Waktu kecil, kami anak-anak tidak memakai kain ke pura. Kami memakai celana dan baju yang khusus kami siapkan untuk dipakai ke pura atau ke kota. Baru beberapa tahun belakangan, semenjak adanya slogan Ajeg Bali, anak-anak mulai memakai atau mengenakan kain, baju putih dan destar ke pura.

Author: I Wayan Suada

A simple, unique, and independent person. I like reading to know more about the world, and I like writing to share my vision about life.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *