Bermain

Jadi anak kecil di kampung memang menyenangkan. Banyak permainan yang bisa kami mainkan di sela-sela letih setelah sekolah dan kadang membantu bekerja.

Magala-galaan :
Ini adalah permainan yang terdiri dari 2 regu. Masing-masing regu sebaiknya terdiri dari minimal 3 orang. Satu regu misalnya Regu A menjadi penjaga, satunya lagi misalnya Regu B harus berusaha melewati hadangan regu A. Regu A akan berdiri berderet ke belakang, dengan jarak 3 langkah (sekira 3 meter). Anggota regu B akan berusaha melewati dari deret paling depan, sampai ke belakang, kemudian balik lagi tanpa tersentuh tangan Regu A.

Satu orang berhasil lewat dengan selamat, berarti Regu B pemenangnya. Sebaliknya jika salah satu anggota Regu B berhasil ditangkap (disentuh) oleh Regu A, maka Regu B kalah, dan wajib bertukar menjadi penjaga. Begitu seterusnya. Permainan ini akan menjadi tambah seru jika banyak ada penonton.. Di kiri dan kanan penjaga diberi batas. Regu B tidak boleh lewat ke belakang atau ke depan di luar batas itu. Jika dilanggar akan didiskualifikasi, dan dianggap kalah.

Maalih-alihan (Hide and Seek) :
Permainan ini aku kira terkenal di mana-mana. Satu orang akan menjadi pencari, dan yang lainnya sembunyi. Sebuah pilar atau sebatang pohon agak besar akan ditetapkan sebagai tempat tarikan atau base-nya. Permainan dimulai dengan si pencari menutup matanya, sementara yang lainnya berlari sembunyi secepatnya. Selang beberapa saat, pencarian dimulai. Anggota lain akan berusaha menuju base secepatnya tanpa ditangkap oleh si pencari. Siapa yang ditangkap pertama kali, ia akan mengganti posisi menjadi si pencari.

Jika sampai batas waktu tertentu, si pencari tidak bisa menangkap satu orang pun dan tidak juga bisa menemukan persembunyian peserta lainnya, ia harus menyerah dan kembali menjadi si pencari lagi. Kami biasanya memainkan permainan ini pada malam hari, saat terang bulan purnama. Tak ada perasaan takut sedikit pun agan digigit ular atau terinjak pecahan botol. Kegembiraan kami mengalahkan kekhawatiran…. Selesai permainan, kami terkadang pergi ke sungai untuk mandi atau sekedar membasuh keringat…

Macan-macanan dan congklak :
Ada beberapa jenis macan-macanan yang biasa kami mainkan. Diantaranya, macan ingkut (terdiri 9 bujur sangkar), macan mobil-mobilan, macan derek. Cara mainnya akan aku jelaskan di kesempatan lain.

Kami juga sering main congklak dan bangkal-bangkalan. Untuk bangkal-bangkalan, lobangnya kami buat di tanah menggunakan batu untuk menumbuknya, sedangkan pionnya dari kerikil-kerikil kecil dan pecahan genteng.

Sepak Bola :
Salah satu permainan terfavorit kami adalah sepak bola. Bolanya kami buat dari batang pisang yang sudah kering, yang kemudian kami ikat bagian luarnya menyerupai segi 5 bola sepak beneran. Kami bermain di ladang orang yang tudak digunakan untuk berkebun. Kami teerbiasa berguling-guling di rumput, dan tak pernah kena penyakit gatal. Sepertinya kulit kami sudah sedikit kebal akibat terpaan alam.

Semakin sore, biasanya peserta semakin banyak, begitu juga dengan penontonnya. Pemain dan penonton bukan hanya anak-anak, tapi orang dewasa pun ikut serta, apalagi saat musim kemarau atau menjelang panen, dimana kegiatan di sawah sementara dihentikan. Kami semua warga desa larut dalam sorak sorai gembira…

Berenang dan Meceburan :
Permainan lain adalah berenang di sungai. Karena kami tinggal di desa pinggiran sungai, semua kami dilatih berenang sejak kecil. Kami harus bisa berenang, karena kalau tidak, kami tidak akan diajak main oleh teman-teman.

Disamping berenang, kami juga punya permainan uji nyali yaitu terjun ke air dari batu atau pohon dengan ketinggian 3-5 meter. Siapa yang tidak berani, akan diolok-olok atau akan dipaksa oleh teman-teman. Jadi kami harus punya nyali juga… he he….

Pisang-pisangan :
Sehabis belajar berkelompok, biasanya kami mau permainan ringan. Kami suka mebiyu-biyuan, atau pisang-pisangan. Cara mainnya, semua peserta akan menamai dirinya dengan nama pisang, seperti Biyu Kayu, Biyu Sabit, Biyu Gedang, Biyu Dak Raja, Biyu Mas, Biyu Kate, Biyu Batu, Biyu Keladi, dan sebagainya.

Setelah melakukan suit atau hompimpa, yang kalah akan menjadi si pencari. Peserta lainnya akan berkumpul bersama di halaman, kemudian ditutup menggunakan selimut. Setelah siap, si pencari akan mulai meraba-raba dari atas selimut, lalu menebak nama pisang orang yang dipegangnya. Ia hanya bisa menebak 3 kali. Kalau tidak berhasil, ia akan menjadi si pencari lagi. Jika ada yang ketebak dengan benar, maka ia menggantikan posisinya menjadi si pencari.

Masih ada beberapa permainan lain yang belum sempat kuceritakan. Aku akan mencobanya di lain waktu…..

Author: I Wayan Suada

A simple, unique, and independent person. I like reading to know more about the world, and I like writing to share my vision about life.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *